S2 = eS BUAh?
Alkisah, ada sepasang katak-beradik naik angkot melewati Universitas Mercu Buana.
Kakak : Di Mercu ada S2 (baca : es dua) gak yah?
Adik : Kayaknya ada sih Mbak...biasanya di pinggir jalan banyak.
Kakak : ?
Meskipun bingung, sang Kakak dengan bijak meneruskan pembicaraan.
Kakak : Kalo di Trisakti biasanya ada mungkin yah...
>>>
>>>>
>>>>>
>>>>>>
Adik : ?? Ngapain Mbak nyari es buah jauh-jauh ke Trisakti?
Kakak : ????????
-O ouw..kamu ketahuaaan-
Tuesday, June 16, 2009
Wednesday, May 20, 2009
[HALAMAN GANJIL] Kamu Berani, Tapi Agak Kelelahan ------------ --------- --------- -- --Anwar Holid I have never let my schooling interfere with my education. --Mark Twain Kalau kamu kalah, jangan sampai kamu kehilangan pelajaran. --Arvan Pradiansyah Sudah lebih dari setahun ini saya menjadi "tentara bayaran" untuk berbagai klien yang bisa menggunakan keahlian saya. Istilah keren untuk "tentara bayaran" ini antara lain tenaga outsource, pekerja freelance, atau ronin---mengambil istilah usang zaman lama Jepang. Klien--yang sebenarnya boss saya--memberi order dan order itu harus diselesaikan. Persis menjadi Leon dalam film The Professional. Sejujurnya saya sudah menatah moto "Profesional, Disiplin, Tepat Waktu" dalam diri dan pikiran saya; tapi silakan cek kepada para pelanggan saya, kalau mau, seberapa baik saya bekerja seperti itu. Untung tidak ada biaya atas segala wanprestasi saya itu, kecuali kredibilitas saya boleh jadi jadi berkarat di mata mereka. Bahkan ada kala saya mengembalikan order karena bingung cara menyelesaikannya, sebab akhirnya di sela-sela berbagai pekerjaan, saya tak punya waktu lagi untuk mengerjakan order itu. Order itu hanya teronggok di sudut kamar kerja saya; padahal waktu menerima saya merasa punya waktu untuk mengerjakannya. Akhirnya saya minta maaf karena gagal menyelesaikan hal itu. Ternyata menjadi tentara bayaran cukup sulit dan membutuhkan kesabaran tertentu. Saya sering bilang kepada teman yang berkomentar enaknya jadi tenaga outsourse, "Ah, tantangan dan harapannya sama kok. Cuma kalau jadi karyawan tantangannya dengan perusahaan, sementara kalau kerja freelance tantangannya dengan keluarga dan persoalan pribadi." Ternyata kompromi dengan diri sendiri dan keluarga merupakan negosiasi panjang yang terus-menerus labil, dan boleh jadi karena itu, banyak orang putus asa bekerja freelance, dan balik kerja dalam perusahaan. Satu-dua orang mengira saya jadi boss atau jenderal karena seakan-akan menentukan sendiri masa depan saya; padahal harus saya bilang, para klienlah bos saya sekarang. Bedanya kalau dulu waktu kerja di perusahaan bos saya satu, sekarang bos saya banyak. Ini bukan untuk pertama kalinya saya kerja sendiri secara freelance; tapi rasanya kali ini merupakan rekor dalam hidup saya bisa bertahan tak balik ngantor, bahkan berniat lebih baik lagi bekerja sendiri. Dengan berbagai pertimbangan, kadang-kadang ada niat untuk mencari kantor baru, antara lain iming-iming gaji tetap, suasana produktif, bonus, fasilitas, dan sebagainya. Saya bahkan pernah dua kali melamar ke dua lembaga, tapi anehnya ditolak semua. Boleh jadi CV yang saya buat gagal membuat mereka takjub dan yakin. Salah satu hal menyebalkan ketika kita jadi freelance ialah bahwa kita tak akan pernah dapat THR atau bonus perusahaan. Kadang-kadang saya nyaris putus asa karena itu. Semua risiko dan keberhasilan dinikmati oleh pekerja yang bersangkutan. Jadi tahun 2008 ini untuk pertama kalinya saya tak mendapat THR dari perusahaan, selain sejumlah kebaikan sedekah dari teman, saudara, dan orangtua. Rasanya malah sungguh aneh. Menjadi tenaga outsource kerap dituduh berarti memiliki komitmen jangka pendek terhadap pekerjaan. Boleh jadi begitu. Tapi apa saya benar-benar berkomitmen pendek terhadap banyak hal? Bila dilihat dari para pelanggan--- yang ternyata dari perusahaan maupun orang yang sama lagi---saya agak yakin bahwa saya punya komitmen jangka lama terhadap pekerjaan dan klien, dan semoga keyakinan saya cukup beralasan, bahwa kinerja saya cukup memuaskan, jika bukan karena mereka kasihan pada saya. Salah satu hal paling memuaskan dengan bekerja freelance ialah kita bisa memilih mana pekerjaan yang betul-betul kita inginkan dan mana yang bisa ditolak. Kebebasannya penuh. Saya juga bisa bekerja dengan pihak yang saya kagumi, saya anggap terbaik dan membanggakan. Nanti kita bisa menilai, apakah pekerja kantoran yang harus juga mau mengerjakan hal yang mereka benci, karena terpaksa diterima, merupakan sebuah kekurangan atau malah latihan kesabaran. /*/ Bekerja sendiri kerap membuat saya bertanya, apa yang sebenarnya saya pelajari selama ini. Apakah saya cukup baik merencanakan sejumlah hal, bertekad lebih baik, atau sekadar hidup dari proyek ke proyek, tanpa berusaha mengambil pelajaran tertentu dari sana. Perkara mengambil pelajaran ini menurut saya agak berat, karena setiap orang pasti punya pendapat, prioritas, dan skala sendiri, yang menentukan apakah hidupnya terasa bermakna atau sia-sia. Boleh jadi itu sekadar masalah sudut pandang; tapi siapa tahu ada nilai universal yang bisa dibagi di antara kita. Sebagian pekerja pergi tiap hari ke kantor sebagai rutinitas membosankan, tanpa gairah, atau sekadar memenuhi absensi biar di akhir atau awal bulan dapat gaji tetap. Tetapi sejumlah pekerja freelance pun, misalnya seniman, penulis, juga kadang-kadang merasa bosan dengan hidup mereka dan merasa lebih baik mati saja. Jadi soal mendapat makna, pelajaran, atau malah sia-sia benar-benar masalah nilai yang tengah diyakini orang bersangkutan. Saya kuatir bila hanya hidup dari mengerjakan proyek ke proyek, tanpa ada keinginan untuk mengasah kemampuan, menambah wawasan, tanpa mendapat pelajaran dari pekerjaan itu, saya lama-lama aus dan bosan. Tapi mungkin yang lebih mengerikan lagi ialah ancaman stagnansi atau tambah bodoh karena kalah oleh kemajuan waktu. Kalau saya kerja di perusahaan atau cukup antusias sekolah, mungkin saya bisa mengajukan training, pelatihan, seminar, pengayaan wawasan, atau berusaha mengambil jenjang pendidikan lebih agar lebih berilmu. Tapi tawaran training--yang antara lain saya terima rutin dari PT Asprinet Indonesia--ternyata biayanya nggak ketulungan mahalnya buat saya. Biaya paket training mereka rata-rata tiga juta ke atas; dengan uang segitu, kalau kebetulan sedang di tangan, saya lebih memilih menghabiskannya untuk membeli asuransi jiwa atau pendidikan anak saya. Bila uang jadi masalah, apakah itu berarti penghasilan saya di bawah standar? Bisa jadi. Dalam sebuah surat kepada seorang kawan, saya pernah membahas tentang jiwa pembelajar dalam diri saya. Kata saya: "Menurutku sendiri, aku antusias belajar dan cari ilmu, cukup rajin membaca. Aku bukan orang yang malas cari ilmu; tapi aku malas sekolah, apalagi untuk sesuatu yang tampaknya sia-sia. Kadang-kadang aku ditanya, 'Tax, apa kamu nggak mau sekolah lebih tinggi?' Biasanya aku jawab, 'Nggak. Aku lebih butuh kursus atau pelatihan/short course yang bermanfaat buat karir dan pekerjaanku. ' Seingat saya, belajar semi formal terakhir yang pernah saya lakoni ialah short course filsafat yang diadakan oleh Universitas Parahyangan dan short course resistensi kebudayaan oleh FSRD ITB. Saya menjalani short course itu dengan cukup menyenangkan, sebuah tanda bahwa saya pada dasarnya cukup antusias belajar, meskipun jangkanya pendek, kira-kira berlangsung tiga bulan. Bila bisa memilih mata kuliah yang membuat saya antuasias belajar dalam kehidupan ini, boleh jadi saya bakal antusias menjalani pembelajaran yang berlangsung. Tapi kadang-kadang dalam hidup kita harus belajar bukan saja menerima hal-hal menyenangkan, melainkan juga hal yang membuat kita muak, sakit, kontradiktif, menyebalkan, dan hal-hal buruk lain. Sudah alamiah bahwa karena ada sisi buruk dalam diri kita, kita juga harus bisa menerma sisi gelap dunia, yang kadang-kadang menyambar baik kewarasan dan kesadaran kita. Jadi bagaimana saya belajar, bila saya cukup berani bilang diri saya ini seorang pembelajar yang antusias? Inilah yang sedang saya uji. Saya merasa senantiasa antusias belajar pada orang lain, terutama mereka berilmu pengetahuan dan berwawasan lebih luas, atau ahli pada bidang tertentu. Itulah sebabnya saya merasa sangat senang dan beruntung menyunting berbagai jenis buku karena dari sana saya sekaligus belajar banyak hal. Ketika menyunting buku arsitektur karya seorang dosen senior, segera saya merasa begitu kaya dengan pengetahuan itu---terlebih lagi dia seorang pendidik yang berdedikasi. Ketika saya menyunting buku kreativitas, saya sekaligus belajar tentang cara berpikir kreatif. Karena bekerja untuk seorang motivator dan ahli sumberdaya manusia, saya merasa beruntung mendapat percikan sikap positif dan caranya mengambil keputusan. Karena kawan saya ada yang Ph. D., putus sekolah, gagal jadi sarjana (seperti saya sendiri), punya dua ijazah sarjana, atau mengabaikan ijazah sarjananya, berkarir di dunia yang amat beda dari latar belakang pendidikannya, saya berusaha menyarikan, itu semua tanda apa sih? Bagaimana memastikan bahwa saya benar-benar belajar dari orang yang pantas saya anggap menjadi guru, siapapun mereka, asal memberi saya sepotong kebenaran dan pencerahan? Boleh jadi agak sulit saya petakan, harus dicatat lebih detail, atau sebenarnya yang saya dapat hanya samar-samar. Selain dari orang, kemungkinan saya belajar ialah dari peristiwa, kejadian, pengalaman, termasuk berbagai tulisan apa pun yang saya baca. Sisanya saya belajar dari buku, khususnya buku mengenai kreativitas, motivasi diri, pembelajaran, manajemen, yang saya miliki. Itu untuk memperbaiki kualitas kerja, yang dalam jargon teman saya harus smart working, terutama demi mewujudkan "simple work, hight income." Sementara untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, kompetensi, saya menjelajah ke ruang maya, baik untuk memperhatikan orang diskusi dan mengeluarkan opini, atau mencuri file di folder-folder warnet, yang hasilnya cukup heboh. Kalau beruntung, saya bisa mendapatkan kumpulan e-book menarik tentang penulisan dalam bentuk pdf, chm, ppt, dan lain-lain. Dari seorang teman penjaga warnet, saya pernah mencopy beberapa ensiklopedia yang menurut saya luar biasa menarik. Ketika mendapat semua itu saya berdecak-decak kagum, "Gila, betapa hebat yang bisa disediakan kemajuan zaman dan teknologi." Saya agak kaget menyadari bahwa kebanyakan buku saya dari jenis itu ternyata terbitan Kaifa. Buku-buku mereka yang fokus pada ranah pembelajaran, self help, motivasi, dan manajemen ternyata banyak yang mengesankan dan mencerahkan. Misalnya buku manajemen finansial personal dan keluarga karya Suze Orman. Buku yang terlambat saya pelajari sungguh-sungguh ini mengajari saya agar tenang serta waras menyikapi istilah "investasi" dan lebih hati-hati menghadapi maupun memperlakukan uang. Dulu saya beranggapan bahwa investasi harus selalu berbentuk saham, usaha yang berjalan (income pasif), atau usaha sampingan. Menurut Orman, investasi bisa apa saja yang menguntungkan di masa depan, baik berbentuk tabungan, asuransi, bahkan mengetatkan pengeluaran untuk yang benar-benar merupakan kebutuhan utama. Pokoknya jangan membeli yang sia-sia dan tidak perlu. Jadi saya agak lega punya satu asuransi pendidikan untuk anak sulung saya; meski di samping itu beberapa bulan lalu dengan terpaksa dan menyesal saya membobol tabungan yang rencananya baru akan saya panen ketika berusia 55 tahunan untuk keperluan yang mustahil kami tunda, yaitu mengobati anak-anak yang sakit. Sekarang ini saya ingin segera memulai asuransi untuk anak bungsu kami lebih dini, tapi hingga kini belum tercapai. Entah kapan satu keinginan ini tercapai. Saya juga ingin segera punya tabungan masa tua; tapi mungkin yang ini bisa ditunda, meskipun kalau lebih cepat akan lebih baik. Beberapa kali kesempatan memang sudah datang, tapi akhirnya hal itu kalah oleh prioritas lain. Sejauh pengalaman saya membaca buku-buku pembelajaran setahun terakhir, hanya ada dua buku non terbitan Kaifa yang sungguh-sungguh hebat. Pertama ialah Solusi Praktis Bagi Manajer (A.B. Setiaji), terbitan Kanisius, yang menurut saya meliputi semua topik kebutuhan seorang manajer, dan dibahas dengan mendasar, sederhana, dan lugas. Kedua Whatever You Think Think The Opposite (Paul Arden), terbitan Esensi. Buku ini sangat tipis (142 h.), penuh ilustrasi, dan sebenarnya tidak praktis. Bahkan saya berani bilang isinya lebih banyak pernyataan daripada penjelasan. Hebatnya, pernyataan-pernyata an Paul Arden begitu provokatif, kalau bukan merupakan kumpulan kutipan untuk memberontak terhadap pola pikir umum yang jumud dan dianggap inovatif. Paul Arden menantang kita untuk berbuat sebaliknya. Dia mengajak kita berbuat gila, mengambil keputusan edan, membesarkan ego, menemukan diri sendiri. Kalau perlu, lemparkan diri kamu ke udara! Bisakah kamu melakukan hal revolusioner seperti itu? Semua pernyataan Arden sungguh terbalik-balik, tapi sekaligus sulit sekali dibantah. Kalimat pertama buku ini saja sangat kontradiktif: Let us start off on the right foot by making some wrong decisions. A flop. Idealnya, setiap "tentara bayaran" seperti saya punya asuransi, terutama asuransi kesehatan, jiwa, atau masa tua untuk keluarga--karena hanya kita sendiri yang bisa menjamin kesejahteraan. Sebab saya bisa tewas kapan saja dalam tugas, dan tak ada satu lembaga pun yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan dan kehidupan saya. Tapi kalau semua biaya jaminan sosial itu memang tak terjangkau, apa daya? Mungkin lebih baik berkata begini, "Puji Tuhan. Nasib buruk, nasib baik, siapa tahu?" Kadang-kadang berharap keajaiban lebih menyenangkan daripada putus asa karena keadaan dan sulit mengubah kondisi. Yang mencolok dari bekerja sorangan ialah saya nyaris tak pernah lagi rapat dan merencakan aksi secara strategik. Rasanya hidup saya jatuh dari order ke order, sementara keinginan-keinginan besar---misalnya mewujudkan buku yang benar-benar melampiaskan perasaan dan idealisme--- tercampakkan karena berbagai hal, terutama kalah oleh prioritas perintah orang. Ini boleh jadi menyedihkan, apalagi buat saya yang dalam riwayat kerja di M. kerap salut oleh rencana-rencana yang dicanangkan secara teratur dan ketika kerja di P. atau J. terlibat dengan rencana agak panjang, minimal setahun ke depan. Apa karena tidak punya tim maka saya nggak perlu kompromi dengan rencana? Atau saya mengalami kebosanan, toh sejumlah rencana perusahaan besar pun saya tahu kerap gagal dan akhirnya batal sama sekali? Suatu saat saya pernah tanya ke seorang teman yang jadi manajer, "Berapa persen dari rencana perusahaan itu gagal dan sukses?" Jawabannya juga beragam. Kalau kita pakai nasihat arden, rencana dan rapat adalah omong kosong. Dia bilang, "Kalau kamu terpaksa rapat, singkirkan kursi-kursinya. Kerjakan saja, kemudian perbaiki sambil jalan." Ayo singsingkan lengan baju dan terus kerja. Tapi sulitnya rencana dan strategi merupakan jargon kemajuan industri modern yang mungkin mustahil ditinggalkan. Kalau saya bilang pada diri sendiri, saya merasa sedang terus belajar, baik untuk kehidupan dan karir. Meskipun susah payah, saya berusaha jadi otodidak yang cukup konsisten. Tapi tentu keyakinan itu harus diuji, baik oleh orang lain, terutama klien, dan kualitas kerja. Tapi entah kenapa saya meragukan kualitas belajar saya. Mungkin karena saya tengah kesulitan untuk langsung berinteraksi, bertatap muka, tertawa bersama, bicara ngalor ngidul, membebaskan angan-angan dan unek-unek, bersama teman-teman. Memang sesekali saya bertemu dengan mereka, tapi saya merasa intensitasnya kurang. Apa saya sudah tergerus dan oleh keluarga, kehidupan, dan tekanan keinginan? Seorang teman baik yang baru-baru ini membebaskan utang kami, mengirim surat bernada menyemangati tapi sekaligus memperingatkan: "Kamu punya keberanian untuk menjalani idealismemu dengan segala konsekuensinya, meskipun akhir-akhir ini terlihat kamu agak kelelahan menjalaninya. " Seseorang melihat sesuatu yang lain dalam diri saya, dan boleh jadi memang begitu sebenarnya. Seperti bila suatu hari kita lihat seorang kawan bertingkah aneh, gerak gesturnya lain, kita dengan mudah bilang, "Ada apa sih dengan kamu hari ini? Apa kamu jatuh cinta?" Sering orang lain mampu melihat diri kita dengan lebih tepat. Beberapa bulan lalu saya ketemu kawan yang cerita dia tengah mengambil program doktoral di almamaternya. "Memang studi kamu masih kurang ya selama ini? Atau itu tuntutan kerja dan jabatan?" tanya saya. "Sebenarnya malas sih belajar lagi. Saya sedikit agak terpaksa ikut program ini, soalnya saya takut tersingkir." DHUAR! Ucapan dia meledakkan kepala saya. Dia cerita betapa kolega-koleganya yang bertitel lebih tinggi lama-lama kok terasa bikin grup tersendiri, atau lelucon mereka lama-lama terasa pahit buat mereka yang jenjang pendidikannya lebih rendah, seolah-olah mereka tak pantas berkawan dan harus jadi lebih hina. Inilah yang paling saya benci dari efek pendidikan, bahwa orang ternyata bisa merasa sombong dengan pengetahuan yang ada dalam kepalanya. Jelaslah bahwa pendidikan melahirkan kelas baru dalam masyarakat kita, yaitu kelas priayi yang merasa pantas disembah. Saya tahu persis bahwa orang-orang berpendidikan, dengan profesi mereka yang mengagumkan, bisa bertingkah sangat memuakkan dan menjijikkan. Saya dengar cerita dari tetangga yang jadi pembantu rumah tangga seorang dokter, betapa si dokter ini bisa menunjuk-nunjuk dengan menggunakan kaki kepada dia agar beres-beres rumahnya. Keterlaluan! saya bilang. Entah kalau seluruh umat manusia sudah punya kesepakatan bahwa menunjukkan dengan kaki tetap dianggap sopan. Namun cerita kawan saya yang tengah mengambil program doktor itu agak lain tekanannya waktu dia ketemu istri saya. Dia berharap bila sudah jadi doktor maka proyek-proyeknya- --yang dia bangun bersama kawan dalam sebuah perusahaan-- bisa lebih tinggi nilainya, baik dari segi finansial dan reputasi. Jadi klien lebih menghargai kinerja dia yang kini berilmu dan bebekal pengetahuan lebih besar. Sementara kolega di kampusnya tak bisa lagi memandang sebelah mata. Wow... tombak bermata dua. Jadi sesungguhnya untuk apa sih kita belajar? Untuk apa saya cerita dan bertanya apa yang tengah saya pelajari selama ini? Saya berinteraksi dengan kawan, membaca sejumlah hal, berusaha mencerap ilmu dari sana-sini, berusaha mengambil sari kehidupan dari kawan-kawan dan kejadian... tapi kadang-kadang pesimistik dan sinis bahwa saya jadi manusia yang lebih baik. Meskipun mengaku sudah belajar, berusaha kreatif dan tegar, toh saya masih kasar, susah mengendalikan diri, kemarahan, bahkan kadar kesabaran saya bisa begitu rendah, sementara di sisi lain kadang-kadang ada target kerja yang selalu meleset dan molor terlalu lama, janji-janji lolos, dan minta maaf bisa membosankan. Jadi apa dong yang bisa saya unggulkan agar bisa menjalani hidup lebih baik dan waras? Belajar dalam kehidupan merupakan proses yang panjang, personal, boleh jadi baru berhenti bila seseorang tengah sekarat mau melepas nyawa. Tapi menunjukkan hasil yang bagus dan mengesankan ternyata penting dan menentukan. Bila bilang bahwa saya belajar tapi hasilnya kacrut, orang lain dan klien juga akan lari, mencibir, menjelek-jelekkan di belakang, dan akhirnya berhenti memberi keran sumber nafkah. Mungkin ini namanya keseimbangan. Kamu boleh jungkir balik belajar, ngaku mati-matian memperbaiki diri sendiri, berusaha menemukan kualitas terbaik, memotivasi diri sendiri, memperkenalkan keyakinan atau metode baru, tapi jangan sampai kamu memperlihatkan kinerja yang buruk kepada orang lain, kecuali kamu tahan banting, baik oleh cemooh atau bayang-bayang sukses masa lalu. Kalau jutaan perempuan senang dan puas dengan produk Revlon, perlukah perusahaan itu memperlihatkan bagaimana mereka membuat produk itu? Mungkin tidak. Penerbit seperti GPU dan Mizan hanya berusaha terus menerus menerbitkan buku dengan kualitas paling bagus, meminimalkan kesalahan, memenuhi selera pangsa pasar mereka yang boleh jadi berkelas, tinggi. Mereka menjaga kualitas, dan memperbaiki secara berkala. Mereka tidak perlu gembar-gembor kepada publik sulitnya mengemas naskah yang hancur jadi enak dibaca, atau betapa kadang-kadang bekerja sama dengan pihak lain itu menyebalkan. Ini persis dengan ungkapan Inggris: when I do good no one remember, when I do bad no one forget. Ayo Tax, tetap semangat terus berjuang, jangan terlalu mudah mengeluh! Jangan lupa bilang terima kasih atas kebaikan kawan dan berkah kehidupan. Ingat ucapan Nora Profit yang kamu tempel di balik pintu: Jangan sampai kamu meragukan dirimu sendiri. Kau akan rugi.[]1/14/ 2009 Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai penulis, editor, dan publisis. Blogger @ http://halamanganji l.blogspot. com. KONTAK: wartax@yahoo. com | (022) 2037348 | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141 |
Thursday, March 19, 2009
JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Ketika hati sedang gundah, dibutuhkan seseorang yang penuh perhatian.
Mungkin tidak bisa memberikan solusi, tapi minimal mau mendengarkan.
Tidak langsung mengeluarkan dalil-dalil yang penuh larangan, tanpa memahami inti permasalahan.
http://kokonata.multiply.com/journal/item/301/Kebutuhan_Cinta_Aktivis_Dakwah
Ketika hati sedang gundah, dibutuhkan seseorang yang penuh perhatian.
Mungkin tidak bisa memberikan solusi, tapi minimal mau mendengarkan.
Tidak langsung mengeluarkan dalil-dalil yang penuh larangan, tanpa memahami inti permasalahan.
http://kokonata.multiply.com/journal/item/301/Kebutuhan_Cinta_Aktivis_Dakwah
Sunday, March 01, 2009
SALAH SATU YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM MATI
Dalam suatu majelis Ta'lim yang dihadiri oleh para mujahidah, sang madrosah pendidik generasi, diadakan sesi ta'aruf untuk saling mengenal. Masing-masing memperkenalkan diri.
"Ana fulanah, hafidzoh, seorang dokter"
"Ana fulanah, hafidzoh, seorang guru"
"Ana fulanah, hafidzoh, seorang psikolog"
Kejujuran mereka tidak diragukan. Mereka hidup dalam ikatan ukhuwah yang erat, yang satu mengingatkan yang lain.
"Ana fulanah, hafal 20 juz, seorang bidan"
"Ana fulanah, hafal 18 juz, seorang profesor"
Kemudian sang pembimbing majelis ta'lim tersebut bertanya kepada para mujahidah yang belum hafidz : "Berapa umur antunna sekarang?"
Jawaban mereka berbeda-beda. rata-rata adalah 40 tahun.
"Apa yang telah kalian lakukan selama 30 tahun ini yang menyebabkan kalian belum hafidz?"
Deg.....
Para mujahidah yang belum hafidz tertunduk malu. Jikalau di dekat mereka ada ember, ingin rasanya mereka gunakan ember itu untuk menutup muka mereka karena tak tahan menanggung malu. Mereka tahu dan sadar, bahwa perkataan sang pembimbing tidak ditujukan untuk mempermalukan, tapi untuk mengingatkan betapa pentingnya menghafal Qur'an, karena itu merupakan salah satu dasar untuk bisa tetap istiqomah dalam menghadapi berbagai macam ujian, goncangan yang akan mereka hadapi ke depan. Karena musuh mereka tidaklah pernah lengah. Mereka, para musuh itu hanya bisa dikalahkan oleh keimanan yang telah ditopang oleh pemahaman terhadap Al-Qur'an yang sudah terpatri kuat dalam hati. Pemahaman tersebut tidak dapat diraih jika tiada hafalan yang penuh terhadap isinya.
Dalam perjalanan pulang, seorang mujahidah yang belum hafal Qur'an berfikir. Masih untung hal itu ditanyakan disini, di dunia ini, sehingga masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalannya. Bagaimana jika pertanyaan itu diajukan disana? Di alam kubur? Apa jawaban yang akan mereka berikan kepada malaikat Munkar dan Nakir?
Di dunia ini ada seribu satu alasan bagi mereka yang menganggap menghafal Qur'an bukanlah sesuatu yang penting. Tapi bisakah alasan itu digunakan di sana?
Dalam suatu majelis Ta'lim yang dihadiri oleh para mujahidah, sang madrosah pendidik generasi, diadakan sesi ta'aruf untuk saling mengenal. Masing-masing memperkenalkan diri.
"Ana fulanah, hafidzoh, seorang dokter"
"Ana fulanah, hafidzoh, seorang guru"
"Ana fulanah, hafidzoh, seorang psikolog"
Kejujuran mereka tidak diragukan. Mereka hidup dalam ikatan ukhuwah yang erat, yang satu mengingatkan yang lain.
"Ana fulanah, hafal 20 juz, seorang bidan"
"Ana fulanah, hafal 18 juz, seorang profesor"
Kemudian sang pembimbing majelis ta'lim tersebut bertanya kepada para mujahidah yang belum hafidz : "Berapa umur antunna sekarang?"
Jawaban mereka berbeda-beda. rata-rata adalah 40 tahun.
"Apa yang telah kalian lakukan selama 30 tahun ini yang menyebabkan kalian belum hafidz?"
Deg.....
Para mujahidah yang belum hafidz tertunduk malu. Jikalau di dekat mereka ada ember, ingin rasanya mereka gunakan ember itu untuk menutup muka mereka karena tak tahan menanggung malu. Mereka tahu dan sadar, bahwa perkataan sang pembimbing tidak ditujukan untuk mempermalukan, tapi untuk mengingatkan betapa pentingnya menghafal Qur'an, karena itu merupakan salah satu dasar untuk bisa tetap istiqomah dalam menghadapi berbagai macam ujian, goncangan yang akan mereka hadapi ke depan. Karena musuh mereka tidaklah pernah lengah. Mereka, para musuh itu hanya bisa dikalahkan oleh keimanan yang telah ditopang oleh pemahaman terhadap Al-Qur'an yang sudah terpatri kuat dalam hati. Pemahaman tersebut tidak dapat diraih jika tiada hafalan yang penuh terhadap isinya.
Dalam perjalanan pulang, seorang mujahidah yang belum hafal Qur'an berfikir. Masih untung hal itu ditanyakan disini, di dunia ini, sehingga masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalannya. Bagaimana jika pertanyaan itu diajukan disana? Di alam kubur? Apa jawaban yang akan mereka berikan kepada malaikat Munkar dan Nakir?
Di dunia ini ada seribu satu alasan bagi mereka yang menganggap menghafal Qur'an bukanlah sesuatu yang penting. Tapi bisakah alasan itu digunakan di sana?
Thursday, February 26, 2009
Tuesday, February 24, 2009
Thursday, February 05, 2009
MENGAPA MENGHARAPKAN BINTANG DI LANGIT,
BILA DI GENGGAMAN ADA MUTIARA?
"Harga earphone bluetooth ponsel berapaan?"
"Mahal...mang buat apaan?"
"Angkot kan sering ngetem, jadi gue sering kelamaan di angkot. Daripada bengong, mending sambil dengerin MP3 murottal. Tapi ribet kabelnya."
"Ya udah ntar gua tanyain dulu harga pastinya"
Demikian dialog antara Setyo dengan temannya, sebulan yang lalu. Namun sampai saat ini informasi yang diinginkan belum didapatkan.
Iseng-iseng Setyo membuka kotak ponsel miliknya. Terlihat didalamnya berbagai kelengkapan ponsel seperti buku petunjuk, brosur petunjuk ringkas, CD copy, kabel USB, dan.....earphone. Kawat pengikat earphone tersebut belum pernah dibuka Setyo sejak pertama kali ia membeli ponsel itu, 5 tahun yang lalu. Dia sangat menyayangi barang miliknya, sehingga berusaha agar setiap barang miliknya selalu dalam kondisi terbaik. Bila ia membuka ikatan earphone tersebut, dia khawatir kondisi earphonenya akan berbeda. Nilai jualnya akan jatuh.
Saat itu hati kecilnya berkata :
"Kenapa tidak pakai yang sudah ada? Kenapa menginginkan yang baru?"
Setyo termenung. Pertentangan mulai muncul di batinnya.
"Tapi kan sayang kalau dibuka, nanti harga jualnya turun.."
"Memangnya ponsel itu mau kau jual lagi?"
"Sekarang sih nggak, tapi nanti mungkin ketika benar-benar butuh uang...?"
"Berapa tahun lagi? Bagaimana bila 4JJI berkehendak lain, ponsel itu hilang sebelum dijual?"
"Jangan sampai terjadi lah...."
"Tapi 4JJI kan maha kuasa? Dia bisa berbuat apapun yang Dia mau?"
"....."
"Jadi, mengapa tidak dimanfaatkan selagi ada? Maukah engkau dicap manusia yang tiada bersyukur?"
"....."
"Jadi, manfaatkanlah selagi ada. 4JJI menitipkan earphone itu padamu untuk digunakan sebagaimana yang Ia mau. Bukan hanya untuk disimpan. Bukankah mendengarkan murottal itu baik? Bukankah menghafal Qur'an lebih baik daripada diam saja? Segala fasilitas yang kau butuhkan sudah ada. Mengapa mengharapkan yang belum ada? Mengapa mengharapkan bintang di langit bila di genggaman ada mutiara? Jadi manfaatkanlah fasilitas itu sebaik mungkin sebelum ditarik kembali oleh pemiliknya."
Lama Setyo tercenung sebelum memutuskan untuk membatalkan pesanan earphone bluetooth kepada temannya.
Bismillah, ia lalu membuka ikatan earphone miliknya dan mulai melangkah lagi..
BILA DI GENGGAMAN ADA MUTIARA?
"Harga earphone bluetooth ponsel berapaan?"
"Mahal...mang buat apaan?"
"Angkot kan sering ngetem, jadi gue sering kelamaan di angkot. Daripada bengong, mending sambil dengerin MP3 murottal. Tapi ribet kabelnya."
"Ya udah ntar gua tanyain dulu harga pastinya"
Demikian dialog antara Setyo dengan temannya, sebulan yang lalu. Namun sampai saat ini informasi yang diinginkan belum didapatkan.
Iseng-iseng Setyo membuka kotak ponsel miliknya. Terlihat didalamnya berbagai kelengkapan ponsel seperti buku petunjuk, brosur petunjuk ringkas, CD copy, kabel USB, dan.....earphone. Kawat pengikat earphone tersebut belum pernah dibuka Setyo sejak pertama kali ia membeli ponsel itu, 5 tahun yang lalu. Dia sangat menyayangi barang miliknya, sehingga berusaha agar setiap barang miliknya selalu dalam kondisi terbaik. Bila ia membuka ikatan earphone tersebut, dia khawatir kondisi earphonenya akan berbeda. Nilai jualnya akan jatuh.
Saat itu hati kecilnya berkata :
"Kenapa tidak pakai yang sudah ada? Kenapa menginginkan yang baru?"
Setyo termenung. Pertentangan mulai muncul di batinnya.
"Tapi kan sayang kalau dibuka, nanti harga jualnya turun.."
"Memangnya ponsel itu mau kau jual lagi?"
"Sekarang sih nggak, tapi nanti mungkin ketika benar-benar butuh uang...?"
"Berapa tahun lagi? Bagaimana bila 4JJI berkehendak lain, ponsel itu hilang sebelum dijual?"
"Jangan sampai terjadi lah...."
"Tapi 4JJI kan maha kuasa? Dia bisa berbuat apapun yang Dia mau?"
"....."
"Jadi, mengapa tidak dimanfaatkan selagi ada? Maukah engkau dicap manusia yang tiada bersyukur?"
"....."
"Jadi, manfaatkanlah selagi ada. 4JJI menitipkan earphone itu padamu untuk digunakan sebagaimana yang Ia mau. Bukan hanya untuk disimpan. Bukankah mendengarkan murottal itu baik? Bukankah menghafal Qur'an lebih baik daripada diam saja? Segala fasilitas yang kau butuhkan sudah ada. Mengapa mengharapkan yang belum ada? Mengapa mengharapkan bintang di langit bila di genggaman ada mutiara? Jadi manfaatkanlah fasilitas itu sebaik mungkin sebelum ditarik kembali oleh pemiliknya."
Lama Setyo tercenung sebelum memutuskan untuk membatalkan pesanan earphone bluetooth kepada temannya.
Bismillah, ia lalu membuka ikatan earphone miliknya dan mulai melangkah lagi..
Monday, December 29, 2008
NO INFLATION, NO CRY.
Inflasi vs Zakat.
Dalam suatu kajian, dijelaskan bahwa inflasi tidak sepenuhnya berdampak negatif. Ia bisa berdampak positif karena memicu produksi sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat.
Gambarannya begini : Ketika inflasi meningkat, harga barang naik. Ketika harga naik, produsen berlomba-lomba untuk memproduksi barang karena mengharapkan keuntungan dari naiknya harga. Ketika produksi meningkat, investor berbondong-bondong masuk. Ketika investasi meningkat, PDB meningkat. Sehingga kesimpulannya Inflasi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Tapi apa benar?
Bukankah ketika inflasi meningkat, daya beli masyarakat menurun karena harga-harga naik? Memang masih ada yang belanja di tengah kenaikan harga tersebut (terutama produsen) tapi seberapa banyak? Berapakah perbandingan antara yang mampu belanja dengan yang tidak? Ketika produsen berbondong-bondong memproduksi barang, siapakah yang akan membelinya? Tetap saja orang-orang yang notabene ‘kaya’ lah yang akan membelinya. Yang tidak mampu? Mereka akan berhutang untuk membeli kebutuhan tersebut. Lalu bagaimana membayar hutangnya? Ya berhutang lagi untuk melunasi hutang dia. Begitu seterusnya.
Jadi, apakah benar inflasi bisa memicu pertumbuhan ekonomi? Atau Cuma alat untuk menyejahterakan yang sudah kaya?
Masing-masing punya jawaban sendiri.
Tapi menarik untuk disimak, ketika wacana ini digulirkan kepada salah satu dosen, ia memberikan solusi yang sebenarnya klise.
Wacana dari dia adalah, untuk memicu pertumbuhan ekonomi bukanlah inflasi.
Tapi zakat.
Mengapa?
Seorang mustahik ketika menerima zakat, dia akan membelanjakannya untuk membeli minimal kebutuhan pokok (semisal tempe). Ketika ada jutaan mustahik yang menerima zakat lalu membeli tempe, ada berapa juta ton tempe yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka? Dari situ, produsen melihat peluang ini sehingga berlomba-lomba untuk memproduksi tempe. Itu baru satu jenis barang. Bagaimana jika telur, susu, gula, dan beras juga demikian? Akhirnya konsumsi meningkat, produksi pun tumbuh, sehingga PDB tinggi.
Namun mungkin usaha ini akan terhambat bila produksi tempe hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Untuk menaikkan harga, mereka menimbun stok yang ada di pasaran sehingga tempe menjadi langka.
Oleh karena itu, seharusnya Indonesia memiliki lebih banyak lagi pengusaha agar produksi barang tidak hanya dikuasai segelintir orang saja.
Di sinilah peran pemerintah. Seharusnya pemerintah bisa mengendalikan produsen, membuat aturan main yang bisa membuat agar distribusi barang dan jasa bisa merata di masyarakat, tidak hanya dikuasai oleh sekelompok manusia.
Kesimpulannya, perlu peran semua pihak dalam menyejahterakan rakyat Indonesia. Pemerintah sebagai pembuat dan pengatur kebijakan, lembaga zakat sebagai pengelola zakat, juga masyarakat, baik sebagai konsumen ataupun produsen yang mengolah berbagai faktor produksi, Tak ketinggalan para orang kaya yang sadar zakat.
Tapi kapankah mimpi ini bisa terwujud?
Inflasi vs Zakat.
Dalam suatu kajian, dijelaskan bahwa inflasi tidak sepenuhnya berdampak negatif. Ia bisa berdampak positif karena memicu produksi sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat.
Gambarannya begini : Ketika inflasi meningkat, harga barang naik. Ketika harga naik, produsen berlomba-lomba untuk memproduksi barang karena mengharapkan keuntungan dari naiknya harga. Ketika produksi meningkat, investor berbondong-bondong masuk. Ketika investasi meningkat, PDB meningkat. Sehingga kesimpulannya Inflasi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Tapi apa benar?
Bukankah ketika inflasi meningkat, daya beli masyarakat menurun karena harga-harga naik? Memang masih ada yang belanja di tengah kenaikan harga tersebut (terutama produsen) tapi seberapa banyak? Berapakah perbandingan antara yang mampu belanja dengan yang tidak? Ketika produsen berbondong-bondong memproduksi barang, siapakah yang akan membelinya? Tetap saja orang-orang yang notabene ‘kaya’ lah yang akan membelinya. Yang tidak mampu? Mereka akan berhutang untuk membeli kebutuhan tersebut. Lalu bagaimana membayar hutangnya? Ya berhutang lagi untuk melunasi hutang dia. Begitu seterusnya.
Jadi, apakah benar inflasi bisa memicu pertumbuhan ekonomi? Atau Cuma alat untuk menyejahterakan yang sudah kaya?
Masing-masing punya jawaban sendiri.
Tapi menarik untuk disimak, ketika wacana ini digulirkan kepada salah satu dosen, ia memberikan solusi yang sebenarnya klise.
Wacana dari dia adalah, untuk memicu pertumbuhan ekonomi bukanlah inflasi.
Tapi zakat.
Mengapa?
Seorang mustahik ketika menerima zakat, dia akan membelanjakannya untuk membeli minimal kebutuhan pokok (semisal tempe). Ketika ada jutaan mustahik yang menerima zakat lalu membeli tempe, ada berapa juta ton tempe yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka? Dari situ, produsen melihat peluang ini sehingga berlomba-lomba untuk memproduksi tempe. Itu baru satu jenis barang. Bagaimana jika telur, susu, gula, dan beras juga demikian? Akhirnya konsumsi meningkat, produksi pun tumbuh, sehingga PDB tinggi.
Namun mungkin usaha ini akan terhambat bila produksi tempe hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Untuk menaikkan harga, mereka menimbun stok yang ada di pasaran sehingga tempe menjadi langka.
Oleh karena itu, seharusnya Indonesia memiliki lebih banyak lagi pengusaha agar produksi barang tidak hanya dikuasai segelintir orang saja.
Di sinilah peran pemerintah. Seharusnya pemerintah bisa mengendalikan produsen, membuat aturan main yang bisa membuat agar distribusi barang dan jasa bisa merata di masyarakat, tidak hanya dikuasai oleh sekelompok manusia.
Kesimpulannya, perlu peran semua pihak dalam menyejahterakan rakyat Indonesia. Pemerintah sebagai pembuat dan pengatur kebijakan, lembaga zakat sebagai pengelola zakat, juga masyarakat, baik sebagai konsumen ataupun produsen yang mengolah berbagai faktor produksi, Tak ketinggalan para orang kaya yang sadar zakat.
Tapi kapankah mimpi ini bisa terwujud?
Monday, December 22, 2008
ISENG 5
Profesional
"Belum ada orang nih?"
"Emang lo kate gue ape?"
Setyo dongkol ketika kehadirannya tidak dianggap oleh Zul, teman kantornya.
"Hehe..maksud gue, para pembesar-pembesar kok belum kelihatan?"
"Pak Nando kemaren jam 12 malam baru pulang, jadi kemungkinan hari ini terlambat" Syaiful yang sedang membaca koran menyahut.
"Lembur sih lembur..pulang malem ya pulang malem..tapi harusnya...gimana yah..."
"Profesional?" sela Setyo.
"Iya begitu..kalo emang lembur, ya jangan jadi alasan untuk telat donk. Gimana bisa maju perusahaan?"
Setyo tercenung.
Ada benarnya juga pikirnya.
Ketika perusahaan asing berpacu meningkatkan kedisiplinan, karyawan perusahaan lokal justru masuk kantor sesuka mereka, seolah-olah merekalah pemilik perusahaan.
Tapi giliran perusahaan asing maju, mereka iri, lalu demo agar perusahaan asing ditutup atau dirusak dan dijarah seperti peristiwa 10 tahun lalu.
Akhirnya Setyo bertekad untuk tidak meniru sifat buruk bosnya itu
Profesional
"Belum ada orang nih?"
"Emang lo kate gue ape?"
Setyo dongkol ketika kehadirannya tidak dianggap oleh Zul, teman kantornya.
"Hehe..maksud gue, para pembesar-pembesar kok belum kelihatan?"
"Pak Nando kemaren jam 12 malam baru pulang, jadi kemungkinan hari ini terlambat" Syaiful yang sedang membaca koran menyahut.
"Lembur sih lembur..pulang malem ya pulang malem..tapi harusnya...gimana yah..."
"Profesional?" sela Setyo.
"Iya begitu..kalo emang lembur, ya jangan jadi alasan untuk telat donk. Gimana bisa maju perusahaan?"
Setyo tercenung.
Ada benarnya juga pikirnya.
Ketika perusahaan asing berpacu meningkatkan kedisiplinan, karyawan perusahaan lokal justru masuk kantor sesuka mereka, seolah-olah merekalah pemilik perusahaan.
Tapi giliran perusahaan asing maju, mereka iri, lalu demo agar perusahaan asing ditutup atau dirusak dan dijarah seperti peristiwa 10 tahun lalu.
Akhirnya Setyo bertekad untuk tidak meniru sifat buruk bosnya itu
Sunday, December 21, 2008
ISENG 4
Astaghfirullah
Gubrag!! Krak!!
Innalillahi wa Innailaihi Rojiun...
Setyo sedang mencatat barang-barang perangkat teknisi yang menjadi amanah, tidak disangka dia menyenggol salah satunya dan....pecah
Panas dingin merayapi tubuhnya.
Apa yang harus dilakukan?
Mengaku? Masuk kerja baru hitungan bulan. Alamat didamprat habis-habisan. Dan yang lebih buruk lagi adalah harus mengganti perangkat yang nilainya 10x gajinya setahun.
Diamkan saja? Pura-pura tidak tahu? Tapi bukankah ikan busuk yang ditutupi serapat mungkin, baunya akan tercium juga? Bukankah ada Yang Maha Tahu?
"Bos...kalo kayak gini suruh diganti yah?"
Sang bos yang sedang menerima telepon memperhatikan sejenak, lalu menghentikan sejenak percakapannya di telepon.
"Kenapa? Gak ada apa-apa kok." ucap sang bos sembari membolak-balik perangkat yang diperlihatkan.
Setyo lalu menunjukkan bagian yang pecah.
Muka sang bos merah padam, sedangkan Setyo mengkerut. Walaupun dia sudah mempersiapkan hati untuk menerima apapun konsekuensinya, tak urung nyalinya ciut juga karena merasa bersalah.
Namun tidak disangka, ternyata wajah sang bos perlahan-lahan kembali cerah.
"Tidak apa-apa. Nanti minta tolong teknisi untuk membetulkan" ucap sang Bos.
"Emang bisa dibetulin?"
"Bisa, Insya 4JJI"
"Makasih bos"
Legalah hati Setyo setelah kegundahannya teratasi. Sebagai pelajaran, dia berusaha untuk lebih hati-hati dalam memperlakukan amanah yang diberikan padanya. Meskipun dia tidak yakin bahwa kasus ini tidak akan menjadi masalah di kemudian hari.
Astaghfirullah
Gubrag!! Krak!!
Innalillahi wa Innailaihi Rojiun...
Setyo sedang mencatat barang-barang perangkat teknisi yang menjadi amanah, tidak disangka dia menyenggol salah satunya dan....pecah
Panas dingin merayapi tubuhnya.
Apa yang harus dilakukan?
Mengaku? Masuk kerja baru hitungan bulan. Alamat didamprat habis-habisan. Dan yang lebih buruk lagi adalah harus mengganti perangkat yang nilainya 10x gajinya setahun.
Diamkan saja? Pura-pura tidak tahu? Tapi bukankah ikan busuk yang ditutupi serapat mungkin, baunya akan tercium juga? Bukankah ada Yang Maha Tahu?
"Bos...kalo kayak gini suruh diganti yah?"
Sang bos yang sedang menerima telepon memperhatikan sejenak, lalu menghentikan sejenak percakapannya di telepon.
"Kenapa? Gak ada apa-apa kok." ucap sang bos sembari membolak-balik perangkat yang diperlihatkan.
Setyo lalu menunjukkan bagian yang pecah.
Muka sang bos merah padam, sedangkan Setyo mengkerut. Walaupun dia sudah mempersiapkan hati untuk menerima apapun konsekuensinya, tak urung nyalinya ciut juga karena merasa bersalah.
Namun tidak disangka, ternyata wajah sang bos perlahan-lahan kembali cerah.
"Tidak apa-apa. Nanti minta tolong teknisi untuk membetulkan" ucap sang Bos.
"Emang bisa dibetulin?"
"Bisa, Insya 4JJI"
"Makasih bos"
Legalah hati Setyo setelah kegundahannya teratasi. Sebagai pelajaran, dia berusaha untuk lebih hati-hati dalam memperlakukan amanah yang diberikan padanya. Meskipun dia tidak yakin bahwa kasus ini tidak akan menjadi masalah di kemudian hari.
Monday, December 15, 2008
Waktu Tak Mau Berhenti
Lelah rasanya mengeluh. “Melakukan pekerjaan yang bukan bidangnya” istilah teman. Manja. Bagaimana cara membunuh kemanjaan ini? Paksa dia untuk melakukan hal-hal yang dia takuti. Keringat dingin, gelisah, sakit hati, ingin menangis, biarkan saja. Ala bisa karena biasa. Ini bukan neraka, yang tidak ada kekebalan ketika sudah biasa. Maka biasakanlah untuk sakit hati. Insya 4JJI perasaan itu akan pudar seiring perjalanan waktu. Jangan takut ianya akan membuatmu gila, karena 4JJI beserta kita. Mudah mengucapkan dan membayangkan, namun......................
Alloh. Tunjukkanlah yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk menjalankannya.
Lelah rasanya mengeluh. “Melakukan pekerjaan yang bukan bidangnya” istilah teman. Manja. Bagaimana cara membunuh kemanjaan ini? Paksa dia untuk melakukan hal-hal yang dia takuti. Keringat dingin, gelisah, sakit hati, ingin menangis, biarkan saja. Ala bisa karena biasa. Ini bukan neraka, yang tidak ada kekebalan ketika sudah biasa. Maka biasakanlah untuk sakit hati. Insya 4JJI perasaan itu akan pudar seiring perjalanan waktu. Jangan takut ianya akan membuatmu gila, karena 4JJI beserta kita. Mudah mengucapkan dan membayangkan, namun......................
Alloh. Tunjukkanlah yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk menjalankannya.
Sunday, November 30, 2008
Iseng 3
prasangka
Setyo gundah. Bagian ATK bagi-bagi makanan ke semua bagian. Uang diambil dari selisih lebih penggunaan ATK di kantornya. Halalkah? Sepengetahuan dia, bila ada selisih lebih maka dananya seharusnya masuk ke kas perusahaan.
Tapi bagaimana jika bagi-bagi makanan ini termasuk kebijakan perusahaan? Bagaimana jika manajemen sudah memutuskan bahwa bila ada selisih barang lebih, maka kelebihannya akan dibelikan makanan untuk karyawan? Berbagai prasangka berkecamuk dalam pikiran Setyo. Lalu dia ingat petunjuk Al-Qur'an untuk menjauhi prasangka. Akhirnya dia memutuskan untuk klarifikasi masalah ini dengan perusahaan, agar tiada lagi prasangka.
prasangka
Setyo gundah. Bagian ATK bagi-bagi makanan ke semua bagian. Uang diambil dari selisih lebih penggunaan ATK di kantornya. Halalkah? Sepengetahuan dia, bila ada selisih lebih maka dananya seharusnya masuk ke kas perusahaan.
Tapi bagaimana jika bagi-bagi makanan ini termasuk kebijakan perusahaan? Bagaimana jika manajemen sudah memutuskan bahwa bila ada selisih barang lebih, maka kelebihannya akan dibelikan makanan untuk karyawan? Berbagai prasangka berkecamuk dalam pikiran Setyo. Lalu dia ingat petunjuk Al-Qur'an untuk menjauhi prasangka. Akhirnya dia memutuskan untuk klarifikasi masalah ini dengan perusahaan, agar tiada lagi prasangka.
King Of Fighter 2005
Sudah berbulan-bulan lamanya tidak "tinju-meninju" dan "tendang-menendang", akhirnya Ahad kemarin terlampiaskan juga :D. Ada game "baru" di rumah. Tidak bisa disebut baru karena di luar sana, mungkin game ini justru ketinggalan jaman alias basi T_T...Whatever lah, yang penting happy ^_^. Pas kebetulan ada lawan tanding, jadinya kloplah. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara?? ketika dia pakai Orochi, aku tidak berkutik!!! Jadilah King, Chizuru Kagura, Joe Higashi dan Mature bulan-bulanan Orochi hari itu. Salah pilih jagoan? Mungkin. Tidak bisa main? Bisa jadi :D Tapi yang penting hari itu merupakan hari yang membahagiakan, mengingatkan kembali kenangan lama. Main game tidak perlu dihayati, yang penting happy :D
Sudah berbulan-bulan lamanya tidak "tinju-meninju" dan "tendang-menendang", akhirnya Ahad kemarin terlampiaskan juga :D. Ada game "baru" di rumah. Tidak bisa disebut baru karena di luar sana, mungkin game ini justru ketinggalan jaman alias basi T_T...Whatever lah, yang penting happy ^_^. Pas kebetulan ada lawan tanding, jadinya kloplah. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara?? ketika dia pakai Orochi, aku tidak berkutik!!! Jadilah King, Chizuru Kagura, Joe Higashi dan Mature bulan-bulanan Orochi hari itu. Salah pilih jagoan? Mungkin. Tidak bisa main? Bisa jadi :D Tapi yang penting hari itu merupakan hari yang membahagiakan, mengingatkan kembali kenangan lama. Main game tidak perlu dihayati, yang penting happy :D
Friday, November 28, 2008
Iseng 2
"Pak Setyo, nanti ada barang datang dari supplier, kabel gulung 10 buah. Tolong diterima. Saya mau ketemu klien dulu"
"Baik Pak"
Akhirnya kesempatan yang dinanti Setyo pun tiba. Membentuk tubuhnya dengan cara bekerja di gudang. Dia pikir, daripada rutin ke gym keluar uang, lebih baik bekerja sebagai tukang atau kerja berat lainnya untuk membentuk tubuh. Badan bagus, duit masuk. Sambil menyelam minum air, begitu prinsipnya. Peluang itupun datang dua minggu yang lalu sehingga dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dan hari ini, bosnya menyuruhnya untuk melakukan tugas pertamanya dalam angkat-mengangkat barang.
Barang datang. Tapi ketika diangkat, ternyata tidak semudah yang disangka. Benda itu tidak bergerak sedikitpun.
"Sudah Pak biar Kami saja" pegawai dari supplier menyuruh Setyo untuk memantau saja. Tidak perlu bantu mengangkat. Mereka khawatir jika Setyo tetap bersikeras untuk mengangkatnya, pinggangnya tidak akan bisa balik lagi seperti yang pernah mereka alami ketika awal bekerja dulu.
Ternyata membentuk tubuh tidak semudah yang dibayangkan. Perlu kesabaran dan ketekunan kuat. Akhirnya Setyo bertekad untuk berlatih lagi mengangkat barang-barang berat di gudang agar mimpinya memiliki tubuh indah bisa tercapai.
"Pak Setyo, nanti ada barang datang dari supplier, kabel gulung 10 buah. Tolong diterima. Saya mau ketemu klien dulu"
"Baik Pak"
Akhirnya kesempatan yang dinanti Setyo pun tiba. Membentuk tubuhnya dengan cara bekerja di gudang. Dia pikir, daripada rutin ke gym keluar uang, lebih baik bekerja sebagai tukang atau kerja berat lainnya untuk membentuk tubuh. Badan bagus, duit masuk. Sambil menyelam minum air, begitu prinsipnya. Peluang itupun datang dua minggu yang lalu sehingga dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dan hari ini, bosnya menyuruhnya untuk melakukan tugas pertamanya dalam angkat-mengangkat barang.
Barang datang. Tapi ketika diangkat, ternyata tidak semudah yang disangka. Benda itu tidak bergerak sedikitpun.
"Sudah Pak biar Kami saja" pegawai dari supplier menyuruh Setyo untuk memantau saja. Tidak perlu bantu mengangkat. Mereka khawatir jika Setyo tetap bersikeras untuk mengangkatnya, pinggangnya tidak akan bisa balik lagi seperti yang pernah mereka alami ketika awal bekerja dulu.
Ternyata membentuk tubuh tidak semudah yang dibayangkan. Perlu kesabaran dan ketekunan kuat. Akhirnya Setyo bertekad untuk berlatih lagi mengangkat barang-barang berat di gudang agar mimpinya memiliki tubuh indah bisa tercapai.
Tuesday, November 25, 2008
Iseng 1
"Pak Jon, tadi Pak Tirta telpon, katanya dia mau rekomendasikan kita ke kliennya dia, karena dia sudah overload, nggak sanggup handle...kira-kira gimana Pak Ya?"
"Janganlah...tolak aja"
"Tapi Pak...ini kan kesempatan kita buat nambah klien...selama ini klien kita kan cuma PT Tirta Maju aja punyanya Pak Tirta..kalo misal kita putus kerjasama dengan dia, kan bisa mati perusahaan kita.."
"Ya gimana, sekarang aja kita udah keteteran, apalagi kalo ditambah klien baru. Nanti para teknisi istirahatnya kapan?"
"Tapi ini kan kesempatan kita untuk maju Pak Jon"
"Pokoknya tolak aja titik!"
Setyo hanya bisa melengos perlahan sambil berbalik meninggalkan bosnya. Hilang sudah harapannya untuk memajukan perusahaan
"Pak Jon, tadi Pak Tirta telpon, katanya dia mau rekomendasikan kita ke kliennya dia, karena dia sudah overload, nggak sanggup handle...kira-kira gimana Pak Ya?"
"Janganlah...tolak aja"
"Tapi Pak...ini kan kesempatan kita buat nambah klien...selama ini klien kita kan cuma PT Tirta Maju aja punyanya Pak Tirta..kalo misal kita putus kerjasama dengan dia, kan bisa mati perusahaan kita.."
"Ya gimana, sekarang aja kita udah keteteran, apalagi kalo ditambah klien baru. Nanti para teknisi istirahatnya kapan?"
"Tapi ini kan kesempatan kita untuk maju Pak Jon"
"Pokoknya tolak aja titik!"
Setyo hanya bisa melengos perlahan sambil berbalik meninggalkan bosnya. Hilang sudah harapannya untuk memajukan perusahaan
Wednesday, November 05, 2008
JELANG STREET FIGHTER IV
Jeng-jeng-jeng!!! Street Fighter datang lagi dengan tampilan yang lebih....kerennnn!!! Dengan 8 jagoan lama (Ryu, Guile, Chun-li(my sweet ^_^), Ken, Dhalsim, Blanka, E Honda dan Zangief) berikut 4 bos lama (M Bison, Balrog, Sagat, dan Vega) mereka siap bertarung mempertaruhkan harga diri masing-masing. Namun mereka mendapat tantangan baru. Selain dari Dan, Gouken, Cammy, Sakura, Fei Long dan lainnya, ada lagi penantang yang lebih hebat, yaitu : Crimson Viper, Abel, Rufus dan EL Fuerte. Total adalah 24 petarung yaitu 12 pemain lama seperti Ryu, Guile, Chun-Li, Ken, Dhalsim, Blanka, E Honda, Zangief. M Bison, Balrog, Sagat dan Vega, ditambah 8 petarung lanjutan yaitu Seth, Akuma, Gouken, Sakura, Dan, Gen, Cammy dan Fei-Long (T.Hawk dan Dee-Jay nya mannna T_T), dan terakhir 4 pemain baru yaitu Crimson Viper, Abel, Rufus dan El-Fuerte.
Crimson Viper adalah seorang mata-mata Amerika yang cantik (wah, saingannya Chun-Li nambah ^_^) berkacamata dan memakai sarung tangan kulit.
Lalu ada lagi si Abel, seorang tanpa masa lalu yang amnesia, petarung beladiri Prancis campuran (saudaranya Rose kali ya?) yang berusaha untuk mengalahkan anggota Shadaloo yang masih tersisa.
Kemudian seorang luchador (petarung gulat bebas semacam smack down) bernama El Fuerte. Kalau dilihat sepintas, sepertinya akan menjadi saingan Zangief.
Terakhir adalah Rufus. Tampilannya gendut, seperti E Honda, tapi beda aliran. E Honda pesumo, Rufus jagoan kung-fu. Saingan E Honda atau Fei-Long yah? Kita lihat saja Februari nanti.
-Jadi gak sabar nunggu 2009 :D-
Jeng-jeng-jeng!!! Street Fighter datang lagi dengan tampilan yang lebih....kerennnn!!! Dengan 8 jagoan lama (Ryu, Guile, Chun-li(my sweet ^_^), Ken, Dhalsim, Blanka, E Honda dan Zangief) berikut 4 bos lama (M Bison, Balrog, Sagat, dan Vega) mereka siap bertarung mempertaruhkan harga diri masing-masing. Namun mereka mendapat tantangan baru. Selain dari Dan, Gouken, Cammy, Sakura, Fei Long dan lainnya, ada lagi penantang yang lebih hebat, yaitu : Crimson Viper, Abel, Rufus dan EL Fuerte. Total adalah 24 petarung yaitu 12 pemain lama seperti Ryu, Guile, Chun-Li, Ken, Dhalsim, Blanka, E Honda, Zangief. M Bison, Balrog, Sagat dan Vega, ditambah 8 petarung lanjutan yaitu Seth, Akuma, Gouken, Sakura, Dan, Gen, Cammy dan Fei-Long (T.Hawk dan Dee-Jay nya mannna T_T), dan terakhir 4 pemain baru yaitu Crimson Viper, Abel, Rufus dan El-Fuerte.
Crimson Viper adalah seorang mata-mata Amerika yang cantik (wah, saingannya Chun-Li nambah ^_^) berkacamata dan memakai sarung tangan kulit.
Lalu ada lagi si Abel, seorang tanpa masa lalu yang amnesia, petarung beladiri Prancis campuran (saudaranya Rose kali ya?) yang berusaha untuk mengalahkan anggota Shadaloo yang masih tersisa.
Kemudian seorang luchador (petarung gulat bebas semacam smack down) bernama El Fuerte. Kalau dilihat sepintas, sepertinya akan menjadi saingan Zangief.
Terakhir adalah Rufus. Tampilannya gendut, seperti E Honda, tapi beda aliran. E Honda pesumo, Rufus jagoan kung-fu. Saingan E Honda atau Fei-Long yah? Kita lihat saja Februari nanti.
-Jadi gak sabar nunggu 2009 :D-
Sunday, November 02, 2008
KEMISKINAN
Diperangi, bukan dipelihara
BKM 1
Sudah biasa kita menyaksikan kemiskinan di sekitar kita. Terlalu biasa sehingga kita tidak berusaha untuk menghilangkannya dari muka bumi. Memang ada kisah bahwa Nabi melihat penghuni surga mayoritas adalah kaum miskin, namun Nabi juga mewanti-wanti bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran. Mungkin yang dilakukan Profesor Yunus tidak berangkat dari peringatan Rasulullah tersebut. Dia hanya ingin mengangkat martabat kaum miskin sehingga bisa ikut andil dalam perputaran ekonomi dunia, tidak hanya sebagai penonton.
Dari bukunya, "Bank Kaum Miskin" terbitan Marjin Kiri, Profesor mengisahkan sepak terjang Grameen Bank dalam memerangi kemiskinan. Awalnya dia hanya merasa tidak nyaman ketika Universitas tempat dia mengajar tampak tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Di dalam kampus dia mengajar tentang teori ekonomi dan segala tetek bengeknya, namun di sekitar kampus, tanah tandus dan kelaparan sudah dianggap biasa tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Dari situlah awal dia bergerak. Setelah mengetahui bahwa kelaparan berasal dari ketidakmampuan masyarakatnya dalam mengelola lahan tandus, dia lalu berusaha menyadarkan masyarakat bahwa lahan tandus masih bisa ditanami oleh padi varietas unggulan yang dikembangkan di Filipina. Dia lalu mempraktekkannya dengan menanam menggunakan metode alur lurus dengan jarak antara yang sama agar hasilnya bagus meskipun banyak yang mencibir metode itu.
Profesor tidak tahu cara menanam padi. Dia belajar dengan cara terjun langsung ke masyarakat, bertanya sana-sini kepada yang berpengalaman dan mempraktekkannya tanpa membaca dari buku.
Diperangi, bukan dipelihara
BKM 1
Sudah biasa kita menyaksikan kemiskinan di sekitar kita. Terlalu biasa sehingga kita tidak berusaha untuk menghilangkannya dari muka bumi. Memang ada kisah bahwa Nabi melihat penghuni surga mayoritas adalah kaum miskin, namun Nabi juga mewanti-wanti bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran. Mungkin yang dilakukan Profesor Yunus tidak berangkat dari peringatan Rasulullah tersebut. Dia hanya ingin mengangkat martabat kaum miskin sehingga bisa ikut andil dalam perputaran ekonomi dunia, tidak hanya sebagai penonton.
Dari bukunya, "Bank Kaum Miskin" terbitan Marjin Kiri, Profesor mengisahkan sepak terjang Grameen Bank dalam memerangi kemiskinan. Awalnya dia hanya merasa tidak nyaman ketika Universitas tempat dia mengajar tampak tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Di dalam kampus dia mengajar tentang teori ekonomi dan segala tetek bengeknya, namun di sekitar kampus, tanah tandus dan kelaparan sudah dianggap biasa tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Dari situlah awal dia bergerak. Setelah mengetahui bahwa kelaparan berasal dari ketidakmampuan masyarakatnya dalam mengelola lahan tandus, dia lalu berusaha menyadarkan masyarakat bahwa lahan tandus masih bisa ditanami oleh padi varietas unggulan yang dikembangkan di Filipina. Dia lalu mempraktekkannya dengan menanam menggunakan metode alur lurus dengan jarak antara yang sama agar hasilnya bagus meskipun banyak yang mencibir metode itu.
Profesor tidak tahu cara menanam padi. Dia belajar dengan cara terjun langsung ke masyarakat, bertanya sana-sini kepada yang berpengalaman dan mempraktekkannya tanpa membaca dari buku.
Thursday, October 30, 2008
BERSYUKURLAH
karena kita begitu berharga
Siapapun kita, apapun jenis kelamin kita, 4JJI SWT telah mengaruniakan -atau mungkin lebih tepatnya mengamanahkan- kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Atau paling tidak jikalau ada juga yang memiliki kelebihan tersebut, maka kita dan mereka berada pada level tertinggi.
Terkadang kita tidak menyadari kelebihan yang kita miliki tersebut. Alih-alih menggunakan sebaik-baiknya untuk menggapai keridhoan-Nya, kita malah selalu mengeluh terhadap kekurangan-kekurangan yang kita miliki.
Seorang anak mengeluh karena belum boleh memegang uang dalam jumlah banyak sehingga dia berangan-angan bahwa sekiranya saat ini dia sudah dewasa. Seorang wanita mengeluh karena tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti halnya laki-laki sehingga dia mengeluh 'seandainya aku terlahir sebagai laki-laki'. Seorang tua renta mengeluh karena sudah tidak sekuat dulu sehingga berharap agar dia tidak pernah menjadi tua. Sedangkan seorang pemuda menggunakan waktunya hanya untuk bersenang-senang dengan anggapan bahwa dirinya masih muda, jalan masih panjang sehingga waktunya dihabiskan untuk bersenang-senang saja.
Padahal, bila kita cermati. Ada karunia yang 4JJI selipkan pada masing-masing mereka.
Anak-anak dikaruniai kesempatan yang lebih banyak dari remaja dan orang tua untuk menggapai cita-citanya. Saat usia dini adalah saat yang tepat untuk belajar, mempelajari semua hal-hal positif yang ada disekitarnya. Karena saat-saat itu adalah saat ketika otak mampu menyerap semua ilmu dengan sangat baik.
Pemuda memiliki semangat yang tinggi, ditunjang dengan kondisi akal dan fisik yang prima sehingga mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah secara lebih baik. Oleh karena itu, di usia yang sedang matang-matangnya ini, gunakanlah sebaik-baiknya dengan banyak menimba ilmu dan beramal, agar tidak ada sesalan di kemudian hari.
Kemudian orang tua. Banyak orang beranggapan bahwa orang tua hanya menjadi beban rumah tangga. Mereka sudah tidak produktif lagi sehingga lebih cocok jika 'dibuang' ke panti jompo. Naudzubillah, alangkah durhaka anak yang tega berbuat seperti itu. Anak-anak itu lupa terhadap satu kelebihan yang hanya dimiliki oleh orang tua. Pengalaman. Seburuk apapun orang tua kita, meskipun dia pengangguran, minimal dia memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih banyak daripada anak-anaknya, yang pengalaman tersebut bisa dijadikan pelajaran oleh mereka yang lebih muda. Oleh sebab itu, 4JJI melalui AlQuran memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada orang tua kita.
Lalu bagaimana dengan wanita? Apakah dia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain? Sebagian masyarakat menganggap wanita adalah penghuni kasta rendah dibawah laki-laki. Padahal ada kelebihan wanita yang menjadikannya lebih mulia dibanding laki-laki. Me-la-hir-kan. Dalam Islam, wanita mulia salah satunya adalah karena kelebihan ini. Bahkan 4JJI mengganjar syahid bagi wanita yang meninggal ketika melahirkan. Karena itulah ketika Rasulullah ditanya tentang siapakah yang seharusnya diperlakukan paling baik didunia, maka Rasul menjawab "Ibumu" sampai 3x. Oleh sebab itu sebenarnya wanita tidak perlu menuntut persamaan hak karena posisi dia sudah lebih mulia daripada laki-laki. Bila ia melakukannya maka hal itu justru akan menurunkan derajatnya menjadi sama dengan laki-laki.
Bila kita ingin menggali lagi, akan sangat baaaanyak karunia 4JJI yang diberikan kepada kita. Halaman ini tidak akan sanggup menjelaskannya satu-persatu. Bahkan Laut dan pohon seisi dunia tidak sanggup menuliskannya meskipun terus menerus ditambahkan sebanyak itu pula.
Oleh sebab itu sudah seharusnyalah kita bersyukur atas apa yang telah 4JJI titipkan kepada kita agar karunia tersebut tidak berubah menjadi bencana.
karena kita begitu berharga
Siapapun kita, apapun jenis kelamin kita, 4JJI SWT telah mengaruniakan -atau mungkin lebih tepatnya mengamanahkan- kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Atau paling tidak jikalau ada juga yang memiliki kelebihan tersebut, maka kita dan mereka berada pada level tertinggi.
Terkadang kita tidak menyadari kelebihan yang kita miliki tersebut. Alih-alih menggunakan sebaik-baiknya untuk menggapai keridhoan-Nya, kita malah selalu mengeluh terhadap kekurangan-kekurangan yang kita miliki.
Seorang anak mengeluh karena belum boleh memegang uang dalam jumlah banyak sehingga dia berangan-angan bahwa sekiranya saat ini dia sudah dewasa. Seorang wanita mengeluh karena tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti halnya laki-laki sehingga dia mengeluh 'seandainya aku terlahir sebagai laki-laki'. Seorang tua renta mengeluh karena sudah tidak sekuat dulu sehingga berharap agar dia tidak pernah menjadi tua. Sedangkan seorang pemuda menggunakan waktunya hanya untuk bersenang-senang dengan anggapan bahwa dirinya masih muda, jalan masih panjang sehingga waktunya dihabiskan untuk bersenang-senang saja.
Padahal, bila kita cermati. Ada karunia yang 4JJI selipkan pada masing-masing mereka.
Anak-anak dikaruniai kesempatan yang lebih banyak dari remaja dan orang tua untuk menggapai cita-citanya. Saat usia dini adalah saat yang tepat untuk belajar, mempelajari semua hal-hal positif yang ada disekitarnya. Karena saat-saat itu adalah saat ketika otak mampu menyerap semua ilmu dengan sangat baik.
Pemuda memiliki semangat yang tinggi, ditunjang dengan kondisi akal dan fisik yang prima sehingga mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah secara lebih baik. Oleh karena itu, di usia yang sedang matang-matangnya ini, gunakanlah sebaik-baiknya dengan banyak menimba ilmu dan beramal, agar tidak ada sesalan di kemudian hari.
Kemudian orang tua. Banyak orang beranggapan bahwa orang tua hanya menjadi beban rumah tangga. Mereka sudah tidak produktif lagi sehingga lebih cocok jika 'dibuang' ke panti jompo. Naudzubillah, alangkah durhaka anak yang tega berbuat seperti itu. Anak-anak itu lupa terhadap satu kelebihan yang hanya dimiliki oleh orang tua. Pengalaman. Seburuk apapun orang tua kita, meskipun dia pengangguran, minimal dia memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih banyak daripada anak-anaknya, yang pengalaman tersebut bisa dijadikan pelajaran oleh mereka yang lebih muda. Oleh sebab itu, 4JJI melalui AlQuran memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada orang tua kita.
Lalu bagaimana dengan wanita? Apakah dia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain? Sebagian masyarakat menganggap wanita adalah penghuni kasta rendah dibawah laki-laki. Padahal ada kelebihan wanita yang menjadikannya lebih mulia dibanding laki-laki. Me-la-hir-kan. Dalam Islam, wanita mulia salah satunya adalah karena kelebihan ini. Bahkan 4JJI mengganjar syahid bagi wanita yang meninggal ketika melahirkan. Karena itulah ketika Rasulullah ditanya tentang siapakah yang seharusnya diperlakukan paling baik didunia, maka Rasul menjawab "Ibumu" sampai 3x. Oleh sebab itu sebenarnya wanita tidak perlu menuntut persamaan hak karena posisi dia sudah lebih mulia daripada laki-laki. Bila ia melakukannya maka hal itu justru akan menurunkan derajatnya menjadi sama dengan laki-laki.
Bila kita ingin menggali lagi, akan sangat baaaanyak karunia 4JJI yang diberikan kepada kita. Halaman ini tidak akan sanggup menjelaskannya satu-persatu. Bahkan Laut dan pohon seisi dunia tidak sanggup menuliskannya meskipun terus menerus ditambahkan sebanyak itu pula.
Oleh sebab itu sudah seharusnyalah kita bersyukur atas apa yang telah 4JJI titipkan kepada kita agar karunia tersebut tidak berubah menjadi bencana.
Sunday, October 26, 2008
LOGARITMA SIMPLEKS
Pernah belajar logaritma simpleks?
Ternyata tidak sesimpleks yang dibayangkan :D
Biasanya untuk menyelesaikan masalah yang terdiri dari 3 variabel atau lebih. Konon ini pernah dipakai dalam perang dunia untuk menentukan titik mana yang akan dijatuhi bom. Serem yah....
Berikut ini contohnya :
Maksimumkan : Z = 30X1 + 24X2 + 60X3
Dengan kendala : 6X1 + 3X2 + 5X3 ≤ 30
2X1 + 2X2 + 10X3 ≤ 50
X1,X2,X3 ≥ 0
Langkah 1 : Tambahkan variabel slack di kendala.
Variabel slack adalah variabel sisa jika variabel X adalah 1
Misal dari kendala pertama -> X1,X2,X3 = 1 -> 6(1)+3(1)+5(1)= 14 -> maka variabel slacknya adalah 16 (dari 30-14)
Disini kita umpamakan variabel slack adalah S :
6X1 + 3X2 + 5X3 + S1 = 30
2X1 + 2X2 + 10X3 + S2 = 50
Langkah 2 : Buat matriksnya
Karena komputernya belum sesuai standar, maka bikin matriksnya dipass dulu aja yah :D
Langkah 3 : Buat tabel simpleks
X1 X2 X3 S1 S2 K
6 3 5 1 0 30
2 2 10 0 1 50
-30 -24 -60 0 0 0
Pada baris pertama dibawah variabel, merupakan koefisien masing-masing kendala yang telah ditambah variabel slack. Sedangkan baris terakhir didapat dari model Z maksimum diminuskan.
Langkah 4 : Hitung-hitungan dimulai!!
Pertama, kita tentukan dulu titik mana dari tabel simpleks yang akan dieksekusi. Caranya adalah :
- Di baris terakhir, tentukan nilai yang paling besar dengan mengabaikan tanda minus. Dalam contoh ini yang terbesar adalah 60 yang terletak di kolom X3.
- Kemudian diatasnya kita tentukan, mana yang bila dijadikan pembagi K adalah yang menghasilkan nilai terkecil.
30 : 5 = 6
50 : 10 = 5
Didapat nilai yang terkecil adalah 10 (dari kolom X3)
Maka titik yang akan kita eksekusi adalah titik 10 dikolom X3.
Kedua, proses hitung-hitungan untuk menjadikan baris terakhir atau baris Z nilainya ≥ 0 yaitu dengan cara membuat tabel seperti di bawah :
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1 2 : 10 = 2/10 6 - (5 x 2/10) = 5 -30 + (60 x 2/10) = -18
X2 2 : 10 = 2/10 3 - (5 x 2/10) = 2 -24 + (60 x 2/10) = -12
X3 10 : 10 = 1 5 - (5 x 1) = 0 -60 + (60 x 1) = 0
S1 0 : 10 = 0 1 - (5 x 0) = 1 0 + (60 x 0) = 0
S2 1 : 10 = 1/10 0 - (5 x 1/10) = -1/2 0 + (60 x 1/10) = 6
K 50 : 10 = 5 30 - (5 x 5) = 5 0 + (60 x 5) = 300
Darimanakah angka-angka pada tabel tersebut didapat?
Awalnya adalah dari angka yang akan kita eksekusi :
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1
X2
X3 10
S1
S2
K
Lalu angka tersebut diubah menjadi 1. Caranya adalah dengan dibagi oleh bilangan itu sendiri :
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1
X2
X3 10 : 10 = 1
S1
S2
K
Kemudian angka di kolom yang sama di baris yang beda dinolkan. Caranya adalah dengan dikurangi oleh angka itu sendiri (dalam hal ini 5) dikalikan hasil dari pembagian angka yang tadi dieksekusi (dalam hal ini 1):
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1
X2
X3 10 : 10 = 1 5 - (5 x 1) = 0
S1
S2
K
Namun bila angka di kolom yang sama di baris yang beda adalah negatif, cara mengenolkannya adalah dengan ditambah oleh angka itu sendiri (dalam hal ini -60) dikalikan hasil dari pembagian angka yang tadi dieksekusi (dalam hal ini 1):
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1
X2
X3 10 : 10 = 1 -60 + (60 x 1) = 0
S1
S2
K
Lalu kita lanjutkan baris per baris. Dimulai dari baris ke 2. Kenapa baris ke 2? Karena angka yang pertama kita eksekusi terletak di baris ke 2. Seluruh angka di baris ke 2 itu kita bagi dengan 10, mengikuti pembagi dari angka yang kita eksekusi pertama.
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1 2 : 10 = 2/10
X2 2 : 10 = 2/10
X3 10 : 10 = 1
S1 0 : 10 = 0
S2 1 : 10 = 1/10
K 50 : 10 = 5
Lalu dilanjutkan ke baris ke 1. Mengapa baris ke 1, tidak baris ke 3 dahulu? Sebenarnya tidak masalah yang mana selanjutnya, karena selain baris yang terdapat angka yang akan dieksekusi, baris yang lain tujuannya adalah mengenolkan angka di kolom yang sama dengan angka yang dieksekusi. Ini hanya untuk memudahkan alurnya saja.
Pada baris ke 1, seluruh angka dikurangi 5 (mengikuti angka di baris tersebut, pada kolom yang sejajar dengan angka yang dieksekusi) dikalikan hasil dari pembagian di baris ke 2.
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1 6 - (5 x 2/10) = 5
X2 3 - (5 x 2/10) = 2
X3 5 - (5 x 1)= 0
S1 1 - (5 x 0) = 1
S2 0 - (5 x 1/10) = -1/2
K 30 - (5 x 5) = 5
Lalu terakhir adalah baris ke 3. Untuk baris ke 3, seluruh angka ditambah 60 (mengikuti angka di baris tersebut, pada kolom yang sejajar dengan angka yang dieksekusi) dikalikan hasil dari pembagian di baris ke 2.
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1 -30 + (60 x 2/10) = -18
X2 -24 + (60 x 2/10) = -12
X3 -60 + (60 x 1) = 0
S1 0 + (60 x 0) = 0
S2 0 + (60 x 1/10) = 6
K 0 + (60 x 5) = 300
Setelah itu, hasilnya kita masukkan ke tabel simpleks perubahan, atau tabel simpleks 2.
X1 X2 X3 S1 S2 K
5 2 0 1 -1/2 5
2/10 2/10 1 0 1/10 5
-18 -12 0 0 6 300
Selesai?
Ternyata belum saudara-saudari :D
Kita lihat pada baris terakhir untuk kolom X (X1,X2, dan X3) ternyata masih ada yang negatif. Syarat selesai adalah pada baris terakhir di kolom X tidak ada lagi yang negatif.
Lalu bagaimana selanjutnya? Ya mulai lagi hitung-hitungannya sampai tidak ada yang negatif. Biasanya jumlah berapa kali hitung-hitungannya adalah tergantung jumlah X-nya. Dalam hal ini X-nya adalah 3 (X1, X2, X3) jadi hitung-hitungannya 3 kali. Kalau 4 ya 4 kali. Kalau 100? Ya 100 kali :D Tapi tidak mutlak, bisa kurang dari itu. Jadi jangan lemas dulu yah :DD
Saya potong jalur yah ke tabel simpleks terakhir saja...yang sebelumnya silakan dihitung sendiri ^_^
X1 X2 X3 S1 S2 K
5/2 1 0 1/2 -1/4 5/2
-3/10 0 1 -1/10 3/20 9/2
12 0 0 6 3 330
Dari hasil tabel simpleks terakhir, yang ada hasilnya adalah kolom X yang baris terakhirnya bernilai nol (0). Dalam hal ini X2 dan X3. Lalu koefisien X tersebut adalah angka dikolom K, namun sejajar dengan baris yang dikolom X-nya bernilai 1.
Jadi hasilnya : X1=0, X2=5/2, X3=9/2, dan Z maksimum adalah 330 (kolom K di baris terakhir).
Bingung? Alhamdulillah. Tandanya masih berpikir ^_^
Tapi maaf kalau bingungnya karena angkanya berantakan...soalnya softwarenya nggak kompatibel. Nanti kalau ada kesempatan dirapihkan deh
Pernah belajar logaritma simpleks?
Ternyata tidak sesimpleks yang dibayangkan :D
Biasanya untuk menyelesaikan masalah yang terdiri dari 3 variabel atau lebih. Konon ini pernah dipakai dalam perang dunia untuk menentukan titik mana yang akan dijatuhi bom. Serem yah....
Berikut ini contohnya :
Maksimumkan : Z = 30X1 + 24X2 + 60X3
Dengan kendala : 6X1 + 3X2 + 5X3 ≤ 30
2X1 + 2X2 + 10X3 ≤ 50
X1,X2,X3 ≥ 0
Langkah 1 : Tambahkan variabel slack di kendala.
Variabel slack adalah variabel sisa jika variabel X adalah 1
Misal dari kendala pertama -> X1,X2,X3 = 1 -> 6(1)+3(1)+5(1)= 14 -> maka variabel slacknya adalah 16 (dari 30-14)
Disini kita umpamakan variabel slack adalah S :
6X1 + 3X2 + 5X3 + S1 = 30
2X1 + 2X2 + 10X3 + S2 = 50
Langkah 2 : Buat matriksnya
Karena komputernya belum sesuai standar, maka bikin matriksnya dipass dulu aja yah :D
Langkah 3 : Buat tabel simpleks
X1 X2 X3 S1 S2 K
6 3 5 1 0 30
2 2 10 0 1 50
-30 -24 -60 0 0 0
Pada baris pertama dibawah variabel, merupakan koefisien masing-masing kendala yang telah ditambah variabel slack. Sedangkan baris terakhir didapat dari model Z maksimum diminuskan.
Langkah 4 : Hitung-hitungan dimulai!!
Pertama, kita tentukan dulu titik mana dari tabel simpleks yang akan dieksekusi. Caranya adalah :
- Di baris terakhir, tentukan nilai yang paling besar dengan mengabaikan tanda minus. Dalam contoh ini yang terbesar adalah 60 yang terletak di kolom X3.
- Kemudian diatasnya kita tentukan, mana yang bila dijadikan pembagi K adalah yang menghasilkan nilai terkecil.
30 : 5 = 6
50 : 10 = 5
Didapat nilai yang terkecil adalah 10 (dari kolom X3)
Maka titik yang akan kita eksekusi adalah titik 10 dikolom X3.
Kedua, proses hitung-hitungan untuk menjadikan baris terakhir atau baris Z nilainya ≥ 0 yaitu dengan cara membuat tabel seperti di bawah :
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1 2 : 10 = 2/10 6 - (5 x 2/10) = 5 -30 + (60 x 2/10) = -18
X2 2 : 10 = 2/10 3 - (5 x 2/10) = 2 -24 + (60 x 2/10) = -12
X3 10 : 10 = 1 5 - (5 x 1) = 0 -60 + (60 x 1) = 0
S1 0 : 10 = 0 1 - (5 x 0) = 1 0 + (60 x 0) = 0
S2 1 : 10 = 1/10 0 - (5 x 1/10) = -1/2 0 + (60 x 1/10) = 6
K 50 : 10 = 5 30 - (5 x 5) = 5 0 + (60 x 5) = 300
Darimanakah angka-angka pada tabel tersebut didapat?
Awalnya adalah dari angka yang akan kita eksekusi :
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1
X2
X3 10
S1
S2
K
Lalu angka tersebut diubah menjadi 1. Caranya adalah dengan dibagi oleh bilangan itu sendiri :
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1
X2
X3 10 : 10 = 1
S1
S2
K
Kemudian angka di kolom yang sama di baris yang beda dinolkan. Caranya adalah dengan dikurangi oleh angka itu sendiri (dalam hal ini 5) dikalikan hasil dari pembagian angka yang tadi dieksekusi (dalam hal ini 1):
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1
X2
X3 10 : 10 = 1 5 - (5 x 1) = 0
S1
S2
K
Namun bila angka di kolom yang sama di baris yang beda adalah negatif, cara mengenolkannya adalah dengan ditambah oleh angka itu sendiri (dalam hal ini -60) dikalikan hasil dari pembagian angka yang tadi dieksekusi (dalam hal ini 1):
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1
X2
X3 10 : 10 = 1 -60 + (60 x 1) = 0
S1
S2
K
Lalu kita lanjutkan baris per baris. Dimulai dari baris ke 2. Kenapa baris ke 2? Karena angka yang pertama kita eksekusi terletak di baris ke 2. Seluruh angka di baris ke 2 itu kita bagi dengan 10, mengikuti pembagi dari angka yang kita eksekusi pertama.
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1 2 : 10 = 2/10
X2 2 : 10 = 2/10
X3 10 : 10 = 1
S1 0 : 10 = 0
S2 1 : 10 = 1/10
K 50 : 10 = 5
Lalu dilanjutkan ke baris ke 1. Mengapa baris ke 1, tidak baris ke 3 dahulu? Sebenarnya tidak masalah yang mana selanjutnya, karena selain baris yang terdapat angka yang akan dieksekusi, baris yang lain tujuannya adalah mengenolkan angka di kolom yang sama dengan angka yang dieksekusi. Ini hanya untuk memudahkan alurnya saja.
Pada baris ke 1, seluruh angka dikurangi 5 (mengikuti angka di baris tersebut, pada kolom yang sejajar dengan angka yang dieksekusi) dikalikan hasil dari pembagian di baris ke 2.
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1 6 - (5 x 2/10) = 5
X2 3 - (5 x 2/10) = 2
X3 5 - (5 x 1)= 0
S1 1 - (5 x 0) = 1
S2 0 - (5 x 1/10) = -1/2
K 30 - (5 x 5) = 5
Lalu terakhir adalah baris ke 3. Untuk baris ke 3, seluruh angka ditambah 60 (mengikuti angka di baris tersebut, pada kolom yang sejajar dengan angka yang dieksekusi) dikalikan hasil dari pembagian di baris ke 2.
Baris Baris 2 Baris 1 Baris 3
konstanta
X1 -30 + (60 x 2/10) = -18
X2 -24 + (60 x 2/10) = -12
X3 -60 + (60 x 1) = 0
S1 0 + (60 x 0) = 0
S2 0 + (60 x 1/10) = 6
K 0 + (60 x 5) = 300
Setelah itu, hasilnya kita masukkan ke tabel simpleks perubahan, atau tabel simpleks 2.
X1 X2 X3 S1 S2 K
5 2 0 1 -1/2 5
2/10 2/10 1 0 1/10 5
-18 -12 0 0 6 300
Selesai?
Ternyata belum saudara-saudari :D
Kita lihat pada baris terakhir untuk kolom X (X1,X2, dan X3) ternyata masih ada yang negatif. Syarat selesai adalah pada baris terakhir di kolom X tidak ada lagi yang negatif.
Lalu bagaimana selanjutnya? Ya mulai lagi hitung-hitungannya sampai tidak ada yang negatif. Biasanya jumlah berapa kali hitung-hitungannya adalah tergantung jumlah X-nya. Dalam hal ini X-nya adalah 3 (X1, X2, X3) jadi hitung-hitungannya 3 kali. Kalau 4 ya 4 kali. Kalau 100? Ya 100 kali :D Tapi tidak mutlak, bisa kurang dari itu. Jadi jangan lemas dulu yah :DD
Saya potong jalur yah ke tabel simpleks terakhir saja...yang sebelumnya silakan dihitung sendiri ^_^
X1 X2 X3 S1 S2 K
5/2 1 0 1/2 -1/4 5/2
-3/10 0 1 -1/10 3/20 9/2
12 0 0 6 3 330
Dari hasil tabel simpleks terakhir, yang ada hasilnya adalah kolom X yang baris terakhirnya bernilai nol (0). Dalam hal ini X2 dan X3. Lalu koefisien X tersebut adalah angka dikolom K, namun sejajar dengan baris yang dikolom X-nya bernilai 1.
Jadi hasilnya : X1=0, X2=5/2, X3=9/2, dan Z maksimum adalah 330 (kolom K di baris terakhir).
Bingung? Alhamdulillah. Tandanya masih berpikir ^_^
Tapi maaf kalau bingungnya karena angkanya berantakan...soalnya softwarenya nggak kompatibel. Nanti kalau ada kesempatan dirapihkan deh
TUGAS MATEMATIKA BISNIS
Diberikan Tgl 25 Oktober 2008
SOAL 1
Maksimumkan keuntungan : Z = 36X1 + 28X2 + 32X3 (36X1 dibaca tiga puluh enam eks satu yah, bukan tiga puluh enam kali satu. Begitu juga yang lain)
Kendala : 2X1 + 2X2 + 4X3 ≤ 30
3X1 + 2X2 + X3 ≤ 50
X1, X2, X3 ≥ 0
SOAL 2
Minimumkan biaya : C = 40X1 + 20X2 + 60X3
Kendala : 2X1 + 4X2 + 2X3 ≥ 24
5X1 + X2 + X3 ≥ 8
X1, X2, X3 ≥ 0
Diberikan Tgl 25 Oktober 2008
SOAL 1
Maksimumkan keuntungan : Z = 36X1 + 28X2 + 32X3 (36X1 dibaca tiga puluh enam eks satu yah, bukan tiga puluh enam kali satu. Begitu juga yang lain)
Kendala : 2X1 + 2X2 + 4X3 ≤ 30
3X1 + 2X2 + X3 ≤ 50
X1, X2, X3 ≥ 0
SOAL 2
Minimumkan biaya : C = 40X1 + 20X2 + 60X3
Kendala : 2X1 + 4X2 + 2X3 ≥ 24
5X1 + X2 + X3 ≥ 8
X1, X2, X3 ≥ 0
Subscribe to:
Posts (Atom)