Tuesday, September 01, 2026

 

Drone untuk Peternakan di Indonesia

Oleh: Danung Nur Adli, S.Pt., M.Pt., M.Sc

 

Jumat 28-08-2026,07:00 WIB

Drone untuk Peternakan di Indonesia

--

KETIKA mendengar kata drone, sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin langsung membayangkan sebuah pesawat kecil yang digunakan untuk fotografi udara, pembuatan konten media sosial, atau sekadar hobi menerbangkan pesawat tanpa awak. Persepsi tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, di berbagai negara maju, drone telah berkembang jauh melampaui fungsi tersebut.

Teknologi ini kini menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung pertanian dan peternakan modern melalui konsep precision agriculture dan precision livestock farming. Sayangnya, pemanfaatan drone di sektor peternakan Indonesia masih sangat terbatas bahkan beluum ada sama sekali. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi ternak unggas terbesar di Asia Tenggara dan memiliki kebutuhan yang semakin tinggi terhadap sistem produksi pangan yang efisien, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.

Transformasi digital yang mulai merambah berbagai sektor seharusnya juga menjadi momentum bagi dunia peternakan untuk beradaptasi. Namun, hingga saat ini sebagian besar aktivitas pemantauan kandang masih dilakukan secara manual. Petugas harus berjalan dari satu sisi kandang ke sisi lainnya untuk memeriksa kondisi ayam, distribusi populasi, konsumsi pakan, hingga mendeteksi adanya ayam yang sakit atau mati.

BACA JUGA:Potensi Besar Wisata Pantai Pengkolan Lamongan

BACA JUGA:Memaknai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan

Cara kerja seperti ini tentu membutuhkan waktu, tenaga, serta tidak lepas dari potensi kesalahan pengamatan. Di sisi lain, skala peternakan modern semakin besar. Tidak sedikit kandang ayam pedaging saat ini menampung puluhan ribu ekor ayam dalam satu bangunan. Dalam kondisi seperti ini, pemantauan manual menjadi semakin sulit dilakukan secara cepat dan menyeluruh.

Ruang Teknologi Drone

Drone modern tidak lagi sekadar membawa kamera. Dengan dukungan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), kamera pintar, serta validasi pendekatan machine learning dan deep learning, drone mampu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia. Drone dapat menghitung jumlah populasi ayam secara otomatis, menganalisis kepadatan kandang, mengidentifikasi distribusi ayam, hingga mendeteksi individu yang menunjukkan perilaku tidak normal.

Seluruh proses tersebut dapat dilakukan dalam hitungan menit tanpa harus mengganggu aktivitas ternak.

Lebih jauh lagi, teknologi drone dapat diintegrasikan dengan Internet of Things (IoT), sehingga data yang diperoleh dari udara dapat dikombinasikan dengan informasi suhu, kelembapan. Integrasi berbagai sumber data tersebut akan menghasilkan sistem pengambilan keputusan yang jauh lebih cepat dan akurat dibandingkan metode konvensional.

Negara-negara maju telah lebih dahulu memanfaatkan potensi ini. Di Belanda, Jepang, Jerman, Tiongkok, dan Amerika Serikat, drone telah digunakan untuk membantu pemantauan ternak, inspeksi lahan, pengawasan kesehatan hewan, hingga pengumpulan data produksi secara otomatis. Teknologi tersebut menjadi bagian dari transformasi menuju peternakan presisi yang mengandalkan data sebagai dasar pengambilan keputusan.

Indonesia sesungguhnya memiliki peluang yang tidak kalah besar. Sebagai negara agraris sekaligus produsen unggas yang terus berkembang, kebutuhan terhadap teknologi pemantauan otomatis akan semakin meningkat seiring bertambahnya populasi ternak dan meningkatnya tuntutan efisiensi produksi. Sayangnya, tingkat adopsi drone pada sektor peternakan masih tergolong rendah. Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa drone merupakan teknologi mahal yang hanya cocok digunakan perusahaan besar. Padahal, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan lahirnya drone berukuran kecil dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan beberapa tahun lalu.

Selain faktor biaya, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan tersendiri. Masih sedikit peternak maupun tenaga teknis yang memiliki kemampuan mengoperasikan drone atau memahami bagaimana memanfaatkan data yang dihasilkan. Di sisi lain, penelitian mengenai drone khusus peternakan di Indonesia juga masih relatif sedikit sehingga pilihan teknologi yang tersedia belum sebanyak di negara maju. Padahal, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Kampus tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan. Kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan peternak menjadi kunci untuk mempercepat hilirisasi teknologi sehingga hasil penelitian tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium.

Pengembangan drone khusus peternakan juga perlu mempertimbangkan karakteristik kandang di Indonesia. Drone yang dirancang untuk beroperasi di dalam kandang tertutup (closed house) harus memiliki tingkat kebisingan rendah, ukuran yang kompak, sistem navigasi yang stabil, serta mampu melakukan analisis data secara langsung tanpa bergantung pada koneksi internet. Dengan demikian, teknologi tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan peternak di lapangan. Lebih dari sekadar alat pemantauan, drone juga dapat menjadi bagian dari sistem peringatan dini (early warning system). Ketika terjadi perubahan pola distribusi ayam, peningkatan kepadatan di suatu area, atau muncul indikasi gangguan kesehatan, sistem dapat memberikan notifikasi kepada peternak sehingga tindakan korektif dapat segera dilakukan sebelum kerugian menjadi lebih besar.

Kemampuan seperti ini sangat penting mengingat keberhasilan usaha peternakan sering kali ditentukan oleh kecepatan dalam mendeteksi masalah. Semakin cepat suatu gangguan diketahui, semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Pemerintah juga memiliki peran penting dalam mendorong adopsi teknologi drone melalui penyusunan regulasi yang mendukung inovasi, pemberian insentif penelitian, penyelenggaraan pelatihan operator drone, hingga penyediaan skema pembiayaan bagi peternak yang ingin mengadopsi teknologi baru. Langkah tersebut perlu diiringi dengan penguatan ekosistem industri drone nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk impor, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi yang dikembangkan oleh anak bangsa.

Ke depan, pemanfaatan drone tidak hanya akan terbatas pada peternakan ayam. Teknologi serupa berpotensi diterapkan pada peternakan sapi, kambing, domba, maupun sektor perikanan. Drone dapat membantu menghitung populasi, memantau kondisi lingkungan, mendeteksi penyakit, hingga mendukung kegiatan penelitian yang membutuhkan pengamatan cepat dan akurat sehingga pengambilan keputusan untuk memberikan nutrisi yang presisi akan dilakukan semenjak dini.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi apakah dunia peternakan membutuhkan drone, melainkan seberapa cepat Indonesia mampu mengadopsi dan mengembangkan teknologi tersebut. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan, keterbatasan tenaga kerja, serta tuntutan efisiensi produksi, pemanfaatan drone bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan sebuah kebutuhan. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi ini. Perguruan tinggi telah mulai menghasilkan berbagai inovasi, industri mulai menunjukkan ketertarikan, dan kebutuhan di lapangan semakin nyata. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk mempercepat adopsi serta membangun kolaborasi lintas sektor.

Drone bukan lagi sekadar alat untuk menghasilkan foto udara yang menarik. Di tangan para peneliti, insinyur, dan peternak, drone dapat menjadi mata di langit yang membantu menjaga kesehatan ternak, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperkuat ketahanan pangan nasional. Sudah saatnya pesawat tanpa awak tidak hanya mengudara di langit Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan peternakan Indonesia yang lebih cerdas, modern, dan berdaya saing global. (*)

*) Danung Nur Adli, S.Pt., M.Pt., M.Sc. adalah Dosen di Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan, Program Studi Industri Peternakan Cerdas, Universitas Brawijaya, Malang; Saat ini sedang menempuh PhD studi di Institute of Animal Science, Unversitas of Hohenheim, Jerman.

https://cms.disway.id/uploads/de28c6a5f4c5054624b66befe51ae9a3.jpeg
Danung Nur Adli, S.Pt., M.Pt., M.Sc.-Dokumentasi UB-

 

Sumber tulisan : https://disway.id/read/965270/drone-untuk-peternakan-di-indonesia

Tuesday, August 18, 2026

 

Deleg Deleg

Deleg Deleg

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan closing statement dalam acara “The City of Blessings” China-Indonesia Economic and Trade Exchange dan Matchmaking Conference Two Countries Twin Parks, Rabu, 26 November 2025.-Ekon.go.id-Ekon.go.id

Dua sejoli sudah disepakati untuk berjanji sehidup semati. Kini mereka sedang berjuang untuk hidup; semoga tidak keburu mati: Two Countries Twin Parks.

Seperti itulah kondisi ''iklim ekonomi'' kita saat ini. Semangat membangun ekonomi kalah dengan gegap gempita politik.

Tahun pemilu masih jauh tapi persiapannya sudah memakan tenaga: ada yang korupsi untuk menghadapi pemilu, ada juga yang memberantas korupsi sekadar untuk menghadapi pemilu.

Pembangunan "iklim ekonomi" terabaikan. Termasuk program Two Countries Twin Parks.

Sebenarnya ide itu baik sekali. Kita tidak sekadar mengundang investor asing untuk membangun kawasan industri di Indonesia. Sudah banyak industrial park biasa di Indonesia. Tapi belum ada yang dibangun secara khusus: berdasar ''perkawinan kawasan industri''.

Maka dua negara sepakat untuk memulainya: Tiongkok dan Indonesia. Lokasi kawasan industrinya juga sudah ditunjuk: yang di Indonesia berlokasi di Batang, Jateng. Yang di Tiongkok di provinsi Fujian. Kawasan industrinya di dekat ibu kotanya, Fuzhou.

Kalau ide itu terlaksana maka dua kawasan industri itu sebenarnya dibuat ''sepasang''. Setiap pabrik yang di sini punya hulu di sana. Setiap pabrik di sana punya hulu di sini. Tergantung di mana bahan bakunya.

Seandaianya bahan bakunya ada di Indonesia maka proses menjadikan barang setengah jadinya di Batang. Dikirim ke pabrik sejoli yang di sana. Begitu juga sebaliknya.

Sudah dua tahun kelanjutan pembicaraan soal Two Countries Twin Parks ini slow down. Tidak pernah lagi terdengar langkah majunya. Saling tunggu.

Pihak kawasan industrinya sendiri tentu tidak bisa menunggu dan menunggu. Perusahaan apa pun, begitu investasi sudah dikeluarkan, harus berpikir keras kapan mulai ada pemasukan. Terpaksalah kawasan industri mencari pengusaha yang mau membangun pabrik di lokasinya: tidak lagi harus yang sifatnya sejoli. Apa saja diterima. Yang ideal menjadi pragmatis.

Memang banyak masalah yang masih harus dibicarakan di kedua belah negara. Persoalan yang paling nyata adalah ketentuan bea masuk dan pajak ekspor. Two Countries Twin Parks tidak akan ada gunanya kalau tidak ada perlakuan khusus. Tidak cukup dengan tax holiday dan kemudahan perizinan. Harus sampai ke pembebasan bea masuk di kedua sisi.

Itu bukan mustahil. Bahkan mudah. Tinggal menjadikan kawasan industri yang ditunjuk sebagai kawasan berikat (bonded zone). Atau 粘结区. Toh kita sudah punya kawasan seperti itu. Bahkan sudah sembilan lokasi. Mulai dari Medan, Karawang sampai Morowali.

Rasanya sudah lama kita tidak membahas ide-ide pengembangan ekonomi. Perhatian kita terus ke perebutan pengaruh kekuatan dan kekuasaan. Kalau toh masih ada yang seru dalam pembahasan ekonomi itu adalah bahasan tentang Koperasi Desa Merah Putih dan pengaruh MBG pada ekonomi di bawah.

Kita memang harus mengejar ''uceng dalam jumlah yang amat banyak'' tapi tidak boleh kehilangan ''satu deleg''.

Waktu tumbuh besar di desa saya suka cari ikan. Tapi saya tidak pernah tahu ikan yang mana yang disebut ''ikan uceng''. Juga tidak pernah tahu yang mana ikan wader yang lebih besar yang bernama ''deleg''. Tapi Anda pun tahu maknanya: kejar yang kecil kehilangan yang besar.

Tentu yang dikejar koperasi desa Merah Putih adalah uceng, tapi karena jumlahnya sangat banyak bisa lebih bermakna dibanding satu deleg.

Meski begitu tetap saja tidak boleh kehilangan deleg. Agar tidak deleg-deleg –Wilwa pasti tidak tahu makna deleg-deleg dalam bahasa Mandarin.(Dahlan Iskan)


sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/962308/deleg-deleg

Tuesday, August 04, 2026

Konstitusi (Perusahaan) Keluarga

 

Alih Kekuasaan

Alih Kekuasaan

Para peserta Family Constitution Workshop yang kebanyakan merupakan pemilik bisnis keluarga, mereka datang dari berbagai kota di Indonesia.--

Semua peserta dibagi tujuh grup usaha. Masing-masing grup diberi nama: Salim Family, Hartono Family, Lee Family, Riyadi Family, Budiman Family, Pangestu Family, Kwok Family.

Mereka mendapatkan tiga materi workshop: dari Hadi Cahyadi, Bambang Sutantio, dan saya sendiri.

Hadi adalah doktor dari Universitas Tarumanegara dengan disertasi tentang perusahaan keluarga.

Bambang, Anda sudah tahu: pemilik grup usaha besar Cimory (Disway 3 Juni 2026: Jago Cimory). Sedang saya sendiri tidak perlu Anda kenal.


Hadi Cahyadi memandu diskusi kelompok menyusun satu dokumen keluarga yang disebut --

Setelah acara makan siang masing-masing grup berdiskusi sendiri. Diberi waktu setengah jam. Mereka seolah-olah anggota keluarga pengusaha papan atas Indonesia itu. Mereka harus menyusun satu dokumen keluarga yang disebut "konstitusi keluarga" –family constitution.

Masing-masing dibebaskan untuk menganggap diri mereka sebagai generasi pertama, generasi kedua, atau pun generasi ketiga di perusahaan konglomerat itu. Lalu harus menyusun konstitusi keluarga.

Dalam setengah jam mereka sudah harus sepakat. Lalu secara bergantian tampil di depan forum untuk mempresentasikan konstitusi keluarga masing-masing.

Begitulah jalannya workshop konstitusi keluarga yang dilaksanakan Harian Disway sepanjang satu hari Sabtu kemarin.

Di dunia nyata tentu tidak mungkin konstitusi keluarga disusun dalam satu jam.

"Yang paling singkat enam bulan," ujar Hadi Cahyadi.

Bahkan ada yang gagal total: tidak ada kesepakatan di antara anggota keluarga. Kalau sampai seperti itu diperlukan pihak ketiga. Penasihat. Atau konsultan. Hadi adalah konsultan Family Constitution.

"Yang paling berharga dari kesepakatan itu adalah proses perundingannya," ujar Hadi.


Hadi Cahyadi menjelaskan berbagai studi kasus perusahaan keluarga dunia, termasuk konflik keluarga Gucci, sebagai pembelajaran penting dalam menyusun family constitution dan mencegah konflik antargenerasi.--

Dalam proses menuju kesepakatan itu terjadi diskusi keluarga yang sangat intensif. Kadang sampai sangat keras.

Persoalan yang selama itu tidak muncul di keluarga tiba-tiba muncul. Yang selama itu hanya jadi bisik-bisik keluarga dibicarakan terbuka. Dengan demikian potensi konflik di masa depan sudah langsung dicarikan kesepakatannya saat itu juga.

Proses diskusi yang alot biasanya menyangkut "siapa yang disebut keluarga". Apakah menantu termasuk keluarga. Dari praktik selama ini umumnya disimpulkan "menantu bukanlah anggota keluarga".

Yang lebih alot lagi kalau diskusi sudah sampai pada "apakah anggota keluarga boleh bekerja di perusahaan". Kalau boleh bagaimana persyaratannya?

Umumnya mereka sepakat "boleh". Tapi ada syaratnya.

Syarat itulah yang tiap keluarga tidak sama.

Misalnya ada yang mewajibkan punya pengalaman kerja di perusahaan non keluarga paling tidak dua tahun. Ditambah punya pengalaman bekerja di perusahaan keluarga minimal tiga tahun. Tidak bisa, misalnya, anak bos yang baru lulus dari luar negeri langsung ke level atas.

Yang menggembirakan, ujar Hadi, sudah muncul kesadaran bahwa meritokrasi harus diterapkan di antara anggota keluarga. Ini satu kemajuan besar. Tidak lagi anak laki-laki pertama yang harus memimpin perusahaan keluarga. Padahal belum tentu mampu.

Maka siapa yang boleh menjadi CEO perusahaan keluarga juga harus diperdebatkan di proses penyusunan konstitusi keluarga. Umumnya mereka sepakat sebaiknya CEO tetap di tangan keluarga tapi lewat sistem meritokrasi. Juga lewat penyiapan yang cukup: pendidikan, pelatihan, magang, mentoring. Dan mentor terbaik adalah founder perusahaan itu sendiri: sang ayah.

Tapi banyak juga yang sepakat CEO tidak harus dari anggota keluarga.

"Dalam kenyataan, diskusi di keluarga itu sangat painful," ujar Hadi.

Dari workshop ini setidaknya masing-masing peserta punya apresiasi terhadap pentingnya konstitusi keluarga. Peserta datang dari berbagai kota: Medan, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya. Ada yang punya pabrik plastik di 25 kota. Dari tahun ke tahun omzetnya masih terus naik. Perusahaannya terus berkembang.

Ada juga yang punya 16 rumah sakit. Dia ajak anaknya yang baru lulus dari kuliah di Tokyo. Ada pengusaha cat yang selama lima tahun terakhir omzetnya naik tiga kali lipat.

Pengusaha cat itu mengajak anaknya: masih berusia 14 tahun. Namanya Jayson. Ia tidak sekolah. Sejak lulus SD memilih home schooling. "Agar bisa membantu papa bekerja memajukan usaha," ujar Jayson.

Sejak kecil Jayson melihat papanya kerja terlalu keras. Siang malam. Ia ingin seperti papanya. Saat saya minta bicara tentang proses kerja di perusahaan papanya, Jayson sama sekali bukan seperti anak usia 14 tahun. Ia sudah seperti seorang manajer pabrik yang punya pengalaman panjang.

"Sekarang Jayson sedang saya libatkan dalam proses keuangan di perusahaan," ujar sang ayah: lulusan S-1 manajemen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.


Seorang peserta Family Constitution Workshop mengajak anaknya yang masih berusia 14 tahun.--

Banyak sekali pertanyaan peserta untuk Bambang Cimory. Baru sekali ini saya menyaksikan Bambang berbicara di depan forum. Ternyata sangat menarik.

Cara Bambang menceritakan bagaimana proses alih kekuasaan di grup Cimory sangat mengesankan. Cara penyampaiannya pun sangat hidup. Saya ingat yang pernah saya katakan dulu: seorang CEO yang baik adalah juga harus seorang guru yang pintar. Dengan begitu ia bisa membuat anak buah bergerak seirama dengan misinya.

Bambang punya tiga anak. Awalnya mereka harus bekerja di perusahaan milik orang lain yang tingkat stresnya selangit. Yakni yang biasa menetapkan target capaian yang tinggi.

Setelah itu barulah masuk ke perusahaan keluarga. Proses selanjutnya mulai dibebani business development. Di sinilah ketiganya belajar memahami segala aspek perusahaan: produksi, marketing, SDM, sampai keuangan.

Lewat semua itu barulah Bambang mulai melakukan proses peralihan kekuasaan: dari dirinya ke anak-anaknya. Bambang membagi perusahannya menjadi tiga berdasar kelompok usaha. Masing-masing anak memimpin satu kelompok usaha.

Bambang tidak mau tiga anaknya di satu perusahaan: satu jadi dirut, satu jadi direktur produksi/marketing, satunya lagi direktur keuangan. Masing-masing harus mandiri.

Agar di antara tiga kelompok itu tidak saling bunuh dilakukan kepemilikan silang. Satu orang jadi pemegang saham mayoritas di satu kelompok usaha, dua lainnya jadi pemegang saham lebih kecil. Dengan demikian mereka bersaing membesarkan grup usaha masing-masing tapi juga bisa melakukan sinergi.

Di workshop ini banyak peserta yang datang suami-istri. Bambang sendiri juga mengajak istri –yang di awal pertumbuhan Cimory berperan sebagai "penjaga gawang". Dialah yang memeriksa seluruh pengeluaran perusahaan sampai mengecek kebenaran harga-harga, langsung ke supplier.


Bambang Sutianto dan istri saat menjadi pembicara workshop konstitusi keluarga yang dilaksanakan Harian Disway.--

Bambang termasuk berani melakukan alih generasi. Yakni saat ia masih berusaha 60 tahun –sekitar 7 tahun lalu. Ia bangga dan bahagia atas keputusannya itu. Padahal sekarang pun ia masih sangat sehat dan berpikir jernih.

"Jangan sampai keduluan pikun baru ambil putusan," ujar Hadi. "Keputusannya nanti dianggap tidak adil," tambahnya.

Membagi dan menyerahkan perusahaan kadang lebih pusing daripada yang tidak punya perusahaan.(Dahlan Iskan)


Sumber Tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/960444/alih-kekuasaan

Tuesday, July 28, 2026

 

Suhu Politik

Suhu Politik

--

Kalau saja saya punya termometer, suhu politik Indonesia sekarang ini rasanya di sekitar 38 derajat. Termometer Anda mungkin menunjukkan angka 39 derajat. Para pengusaha sebaiknya tidak usah sering-sering buka medsos. Itu akan membuat suhu badan Anda naik jadi 40.

Kalau pun terpaksa melihat medsos jangan sampai melotot. Cukup lirik-lirik saja sedikit. Setelah tahu sekadarnya segeralah putuskan: tidak memercayainya. Sekarang ini sudah sulit membedakan mana aspirasi murni mana aspirasi ''wani piro" --mau bayar berapa. Saya sendiri lebih ikuti medsos kalau bentuknya meme. Lucu-lucu. Sedikit terhibur.

Cara melihat medsos tanpa ikut emosi sangatlah mudah: jangan punya sikap memihak. Ini bukan sepak bola. Kalau menonton sepak bola memang harus memihak; tidak memihak tidak asyik.

Misalnya ada medsos mengatakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin segera diperiksa. Terkait dengan penetapan Febrie Adriansyah sebagai tersangka pencucian uang. Di rumah (waktu itu) Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi Febrie Adriansyah ditemukan emas 74 kg dan berbagai uang asing bernilai Rp 476 miliar. Yang menemukan adalah polisi dari Satuan Pemberantasan Korupsi Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Mereka sengaja melakukan penggeledahan di rumah Febrie yang di Sentul dekat Bogor.

Sejak Febrie menyatakan "itu bukan uang saya" dan ''uang itu ada yang punya'' spekulasi memang bermunculan. Salah satunya: uang itu milik Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Tidak adanya bantahan dari menhan membuat spekulasi itu tidak berhenti.

Maka sebaiknya jangan percaya dulu. Anggap saja itu hiburan. Kalau pun benar, apa untungnya bagi Anda. Tidak ada. Kalau salah tiwas terpanjur percaya.

Saya lihat banyak orang percaya begitu saja pada medsos. Apalagi kalau sudah ada videonya. Padahal di zaman AI ini apalah yang tidak bisa dibuat.

Yang juga penting bagi Anda: jangan menambah panas suhu Istana Merdeka Jakarta. Misalnya dengan cara ikut menjadi kompor: menyebarkan isu adanya dua kubu di Istana yang sudah ''pecah''. Dua-duanya sama-sama tangan kanan Presiden Prabowo: Prof Dr Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin. Wakil Ketua DPR Dasco tangan kanan bidang politik. Menhan Sjafrie tangan kanan bidang keamanan nasional.

Isu seperti itu tidak baru. Juga bukan baru terjadi di zaman Presiden Prabowo. Di semua zaman ada isu seperti itu. Sejak zaman kerajaan Tiongkok kuno. Selalu saja orang di sekitar pusat kekuasaan ingin terlihat 'yang paling dekat' dengan Presiden. Atau 'yang paling dipercaya' Presiden.

Padahal Presiden sendiri bisa jadi tidak percaya siapa pun. Seperti di zaman Pak Harto dulu. Sebagian orang percaya Ali Murtopolah orang kepercayaan presiden di bidang politik. Lalu Sudjono Humardani-lah orang yang paling dipercaya dalam hal spiritual. Seolah Sudjono itu guru kebatinannya Pak Harto.

Ternyata Pak Harto sendiri mendengar isu seperti itu. Ketika belakangan Pak Harto menerbitkan buku, jelaslah semuanya. Menurut Pak Harto justru Sudjono yang berguru soal kebatinan ke Pak Harto. Dan Ali Murtopo dengan gampang "dibuang" begitu saja.

Memang isu di luaran biasanya lebih gawat dari kenyataan sebenarnya. Orang Madura punya istilah yang amat pas untuk menggambarkan itu: wat menggawat. Digawat-gawatkan.

Bagaimana cara melupakan dengan cepat isu-isu di medsos? Mudah. Tetaplah selalu sibuk. Anda yang sedang menekuni dunia usaha konsentrasilah di usaha Anda. Bikinlah target capaian sedikit lebih tinggi dari kemampuan Anda. Politik tidak akan bisa menyelamatkan Anda. Hanya Anda sendiri yang bisa mengatasi kesulitan Anda. Politik tidak akan membantu Anda.

Suhu politik memang sedang tinggi. Ada mal yang sudah mulai bikin pagar baru yang lebih tinggi. Rasanya itu agak berlebihan –mungkin karena terlalu banyak mengikuti masalah-masalah yang wat menggawat di medsos.

Padahal Anda tidak boleh lupa: medsos juga bisa dipakai untuk operasi intelijen. Pihak lawan juga menggunakannya untuk operasi kontra-intelijen. Anda bukan bagian dari keduanya kan? Tidak usahkan memihak. Untuk apa memihak-mihak –yang itu berarti Anda termakan operasi intelijen atau kontra intelijen? (Dahlan Iskan)



sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/959699/suhu-politik

Tuesday, April 21, 2026

Standar Pelayanan Kelas Dunia

 

Halo Wani

Halo Wani

Wani Sabu saat menerima Lifetime Achievement Award di ajang Contact Center World 2025 di Bali.-Instagram Wani Sabu-

Tidak mudah menjadikan Halo BCA juara dunia Contact Center perbankan dunia (baca Disway kemarin). Harus ada Wani sebagai pembangun pertama. Dia wanita hebat. Nama lengkapnyi: Wani Sabu.

Kini Wani menjabat vice president Bank BCA. Tidak hanya itu. Dia juga menjadi vice presiden grup Djarum, Kudus. Bank BCA memang salah satu bisnis di keluarga Djarum.

Awalnya Wani adalah auditor di BCA. Sebenarnya dia orang hukum. Alumnus Universitas Parahyangan, Bandung. Untuk itu dia harus ikut pendidikan khusus auditor di BCA: sampai 18 bulan. Sangat berat. Ia bukan orang ekonomi. Tapi, Wani berhasil jadi lulusan terbaik pendidikan auditor tersebut.

Karir Wani seterusnya pun di auditor. Dia matang di lingkungan auditor. Mendalami juga ilmu fraud di dunia perbankan. Untuk itu dia ambil S-2 di Universitas Tarumanegara. Bahkan kini dalam proses menyelesaikan S-3 kriminologi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Sebentar lagi jadi doktor ilmu kepolisian. 

Keahlian Wani di bidang fraud perbankan diakui di mana-mana. Sampai Wani dipilih untuk menjadi ketua Perbanas bidang fraud: ketua Komite Siber Fraud Perbanas.

Wani adalah auditor yang tidak harus selalu berjiwa tegang. "Saya tipe auditor happy," ujarnyi saat berbincang panjang dengan saya di suatu acara di Jakarta. "Saya orang yang mudah move on," tambah Wani.

Tibalah saatnya terjadi regenerasi kepemimpinan di BCA. Generasi ketiga pemilik Djarum mulai memasuki level pimpinan tertinggi. Cucu pendiri Djarum menjadi wakil dirut BCA: Armand Hartono

Wani dipanggil Armand. Dia dipindah dari tim auditor ke customer service. Tepatnya: ke Halo BCA. 

Perasaan Wani campur aduk waktu itu: apakah karirnyi sedang dijatuhkan? Disingkirkan? Dihukum? Pasti pimpinan menganggap Wani berbuat kesalahan: diturunkan dari kasta tertinggi (auditor) ke kasta terendah.

Wani pun menemui bos barunyi. Di situlah Wani memperoleh kejelasan: Armand ingin BCA dibenahi habis-habisan. Terutama di bidang hubungan bank dengan nasabahnya. Kuncinya: di Halo BCA.

"Orang yang berprestasi akan selalu berprestasi di mana pun ditempatkan".


Plakat dan boneka Monty (maskot contact center world) yang didatangkan dari Kanada.-Instagram Wani Sabu-

Anda masih ingat siapa yang sering mengucapkan 'hukum prestasi' itu.

Pun Wani. Dia melakukan pembenahan total di Halo BCA. Disiplin ditegakkan. Dia membawa budaya auditor ke Halo BCA. Salah satunya: kontrol yang diperketat.

Wani mengadakan mesin khusus untuk bagian Halo BCA. Karyawan yang meninggalkan meja kerjanya harus menekan tombol lebih dulu. 

Tombol itu ada di setiap meja. Tombol itu ada nomornya. 

Tombol nomor 5 misalnya, untuk yang ingin ke toilet. Berarti waktu yang tersedia hanya lima menit. Hanya untuk ke toilet. Tidak bisa mampir merokok atau menyambangi teman di ruang lain. Di menit keenam dia/ia harus sudah kembali di meja kerja.

Tombol nomor 2 untuk salat. Ada waktunya. Tombol nomor 3 untuk makan. Tombol no 1 untuk yang ikut rapat. Dan seterusnya.

Wani pun melakukan pendidikan khusus bagi karyawan di bagian itu. 


Profil Wani Sabu yang terpajang di dinding pusat Halo BCA.--

Halo BCA kian baik. Tidak ada lagi orang Halo BCA yang justru memarahi nasabahnya lewat telepon.

Wani masih ingat: ada nasabah yang komplain karena ditegur keras petugas BCA. Sampai ada nasabah yang dimaki. Dimarahi. 

Wani sampai melakukan penelitian: kata paling kasar apa yang diucapkan petugas Halo BCA kala itu. "Yang paling banyak digunakan adalah kata 'bego', 'bodoh', dan 'nama binatang'," ujar Wani.

"Binatang apa yang sering diucapkan?" tanya saya.

"Yang terbanyak 'anjing dan babi'," jawab Wani lantas tertawa.

Semua itu sudah menjadi kenangan masa lalu.

Memang kadang nasabah tidak kunjung mengerti penjelasan petugas yang disampaikan sampai berkali-kali. Ada nasabah yang marah. Nasabah itu kian marah karena justru dilawan marah oleh petugas bank.

Yang seperti itu sudah lama tidak ada lagi. Kini bahkan satpam BCA pun menjadi bagian dari pelayanan nasabah. Satpam BCA tahu ke mana nasabah yang bertanya kepadanya: harus disalurkan ke bagian yang bisa menyelesaikan persoalan. 

"Satpam BCA dididik khusus untuk itu," ujar Jayanti Zainal yang sudah Anda kenal.

Layanan di BCA pun kian memuaskan. Sistem telepon diganti digital. Yang dulu hanya melayani komplain diperluas ke jasa komersial: sampai ke pembukaan rekening baru secara digital –pemrek Digital. Orang bisa buka rekening BCA tanpa harus datang ke bank.

Wani orang Jambi. Marganyi Huang. 黄婉玉. Dia lulus SMA Katolik di Jambi. Punya anak hanya satu: putri. Kini sang putri bekerja di Bloomberg. Di London, Inggris.

Hasil kerja keras Wani sangat nyata. Juara dunia contact center sampai 15 kali. Reputasi BCA menjadi sangat tinggi. Kapitalisasi market di pasar modalnya menjadi yang terbesar di Indonesia –mengalahkan Bank BRI dan Mandiri yang asetnya jauh lebih besar dari BCA.

Armand pun terus menaikkan Wani ke jenjang yang lebih tinggi: seperti sekarang ini. Bahkan membawanyi ke holding Djarum.

Wani masih sering datang ke Halo BCA di Foresta. Pun Armand. Saring membawa tamu ke Foresta. Mereka begitu bangga Halo BCA dijadikan andalan oleh pimpinan tertinggi.

Dari BCA Foresta, saya diajak ke BCA BSD City. Juga ada Halo BCA di situ. Perjalanan 10 menit. Di situlah dulu Wani berkantor. Kantor lama Wani kini jadi ruang rapat.

Masih ada satu lagi pusat Halo BCA: di BCA Tang City. Saya tidak sempat ke sana. Harus segera mengisi acara di Asian Tiger CEO Mastermind.

Total ada tiga contact center di sekitar Jakarta. Tapi tiga center itu, dijadikan satu sekali pun masih kalah besar oleh yang di BCA Semarang. 

Semua jenis layanan Halo BCA ada di Semarang. Sampai punya Hall of Fame. Sebenarnya saya lebih diharapkan meninjau yang di Semarang. Di sana juga banyak 5i nya. Di situ pula piala BCA juara dunia 15 kali disimpan. Termasuk foto Wani saat kali pertama menerima piala dunia.

Maka saya menetapkan hati bahwa Kartini saya tahun ini adalah ini: Wani! (Dahlan Iskan)


Sumber Tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/942482/halo-wani

Wednesday, October 15, 2025

Obati kanker dengan stemcell

 

Pasien T-Cell

Pasien T-Cell

--

Mata Dr Karina berkaca-kaca. Kaget campur bahagia. "Saya akan tulis ini di jurnal," kata dokter ahli biomedik yang mendalami stem cell --khususnya T-Cell dan NK-Cell.

Saya mampir klinik Hayandra, milik Karina, sebelum berangkat ke Shanghai Selasa lalu.

Setiap kali bercerita tentang pasiennyi itu matanyi berkaca. "Ia datang ke sini pakai kursi roda. Ia pasrah mau diapakan saja. Kankernya sudah menyebar. Sudah stadium empat," ujar Karina --yang di status HP saya tulis namanyi sebagai Karina Keriting.

Sampai sekarang rambut Karina masih keriting. Masih 5i. Sudah empat tahun saya tidak bertemu Karina. Terakhir ketika saya menjalani PRP di klinik Hayandra pada 2021 lalu. (Disway 6 Agustus 2021).

"Anda apakan pasien kanker paru itu?" tanya saya.

"Saya tawari terapi T-cell," kata Karina.

Pasien itu sudah tidak punya pilihan lagi. Sudah berbagai pengobatan dilakukan. Ia ikut saja apa kata Karina.

Karina sendiri tidak menjanjikan apa-apa. Dia hanya menceritakan bahwa ibunyi sendiri pada 2016 menderita kanker usus. Usus sang ibu sudah berhasil dipotong. Tapi sang ibu tidak mau melakukan kemo. Padahal setelah usus dipotong harusnya menjalani kemo. Agar bibit-bibit kanker yang mungkin masih tersisa bisa dibasmi.

Akhirnya Karina membawa sang ibu ke Jepang. Waktu itu Karina sedang menyelesaikan S-3. Yakni program doktor biomedik di Universitas Indonesia.

Dia kalahkan sekolahnyi itu. Dia dampingi sang ibu ke Jepang.

Di Jepang sang ibu, seorang dokter ahli kulit, menjalani terapi T-cell. "Saya bertekad, kalau ibu saya sembuh akan membawa teknologi T-cell Jepang itu ke Indonesia," ujar Karina.

Sang ibu ternyata sembuh. Sampai sekarang masih sehat. Karina pun membawa paten T-Cell dari Jepang itu ke Indonesia. Lalu dia jalankan T-Cell di klinik Hayandra. Sampai sekarang. Termasuk ke pasien kanker paru yang sudah menjalar ke tulang itu.

Karina ditanya pasien itu: "Harus berapa kali terapi T-cell?"

Karina agak ragu menjawab. Stem cell itu mahal. Harus dilakukan berkali-kali pula. Karina tidak tahu latar belakang ekonomi pasien itu. Tapi dia harus mengatakannya: "lima belas kali".

Itu pun Karina tidak menjamin: apakah dengan 15 kali sudah bisa sembuh. Dalam hati dia sendiri ragu: pasien itu sudah dalam stadium empat.

"Ternyata ia mau. Berarti beliau punya uang," kata Karina. "Belakangan saya tahu beliau  seorang pengusaha," tambahnyi.

Anda sudah tahu: sekali suntikan, cell muda-sehat yang dimasukkan tubuh umumnya berjumlah antara 70 juta sampai 150 juta cell. Tapi T-cell yang dimasukkan Karina ke tubuh pasien tersebut mencapai 1,2 miliar cell baru. Sekali suntik.

Cell baru itu diambil dari pasien sendiri. Dari darah. Dari cell yang ada di darah atau lemak itu dipilih beberapa cell jenis T-cell yang masih muda dan sehat. Lalu dibiakkan di lab milik Hayandra. Sampai menjadi di atas satu miliar cell. Waktu pembiayakannya sekitar 15 hari --lebih lama dari pembiakan stem cell biasa.

Karina memiliki teknologi pembiayakan yang sampai lebih satu miliar cell. Dia memang membeli paten itu dari Jepang. Lalu dia lakukan penyempurnaan.

Di samping ahli bedah plastik Karina juga ahli stemcell. Jurnal ilmiah di bidangnya sudah mencapai 36 karya. Itu baru yang tingkat Scopus. Belum lagi yang tingkat nasional.

Karina adalah dokter yang tetap jadi ilmuwan. Dia tidak berhenti sebagai dokter. Dia terus mendalami stemcell. Apalagi ibunyi sudah sembuh. Gelar doktornyi sudah selesai. Nilai gelar doktornyi sangat bagus.

Bahwa dia tidak cumlaude itu hanya karena waktu penyelesaian doktornyi molor --demi ibundanyi yang harus berobat ke Jepang.

Bagaimana dengan pasien kanker paru yang sudah menjalar ke tulang itu? Bolehkah saya mendapat nomor kontaknya?

"Saya harus minta izin dulu ke pasien saya," ujar Karina.

Sampai saya terbang ke Shanghai nomor kontak itu belum saya dapat. Tapi begitu saya tiba di Hangzhou Dr Karina WA saya.

"Tadi pagi pasien saya datang ke Hayandra," ujar Karina.

"Masih pakai kursi roda?"

"Tidak lagi. Bahkan ia datang setir mobil sendiri," ujar Karina.

"Sudah sembuh? Kok sudah bisa setir mobil?"

"Sudah sembuh. Bahkan ia bercerita baru saja dari Malang. Pakai mobil. Juga setir sendiri," kata Karina mengutip kata-kata pasien itu. "Ia juga mengaku sudah main basket lagi," tambah Karina.

Umur pasien itu memang masih 49 tahun. Hobinya basket. Di suntikan T-cell yang keenam ia sudah tidak lagi di kursi roda.

Apakah diizinkan dapat nomor tilponnya?

"Saya sudah minta izin. Mula-mula ragu. Lalu bertanya apakah tidak akan mencelakakan dirinya," ujar Karina.

Akhirnya Karina bisa mendapat izin itu. Saya pun dikirimi nomor HP pasien itu. Juga nomor HP istrinya. Tapi saya sudah telanjur  padat acara di Hangzhou. Saya akan hubungi pasien itu sekembali ke Jakarta. Sekalian bertamu ke rumahnya.

Waktu datang ke Hayandra kemarin itu Si pasien akan menjalani T-cell untuk kali ke - 11. Berarti kurang empat kali lagi. Karina menganjurkan untuk tetap menyelesaikan program 15 kali T-cell meski pasien sudah dinyatakan bersih dari kanker.

"Siapa yang menyatakan kankernya sudah bersih?"

"Hasil petscan," ujar Karina.

"Kebetulan dokter yang melakukan patscan terakhir ini juga dokter yang melakukan patscan pertama yang mengatakan kankernya sudah menjalar ke tulang," ujar Karina.

Kepada saya lantas ditunjukkan hasil petscan pertama dan petscan terakhir. Tidak hanya hasil scan. Juga uraian atas hasil petscan itu.

Saya diminta membandingkannya. "Lihat hasilnya. Sudah bersih," katanyi. Saya lihat sekilas hasil patscan itu.

Saya tidak bisa membacanya.(Dahlan Iskan)


sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/904586/pasien-t-cell