Tuesday, August 04, 2026

Konstitusi (Perusahaan) Keluarga

 

Alih Kekuasaan

Alih Kekuasaan

Para peserta Family Constitution Workshop yang kebanyakan merupakan pemilik bisnis keluarga, mereka datang dari berbagai kota di Indonesia.--

Semua peserta dibagi tujuh grup usaha. Masing-masing grup diberi nama: Salim Family, Hartono Family, Lee Family, Riyadi Family, Budiman Family, Pangestu Family, Kwok Family.

Mereka mendapatkan tiga materi workshop: dari Hadi Cahyadi, Bambang Sutantio, dan saya sendiri.

Hadi adalah doktor dari Universitas Tarumanegara dengan disertasi tentang perusahaan keluarga.

Bambang, Anda sudah tahu: pemilik grup usaha besar Cimory (Disway 3 Juni 2026: Jago Cimory). Sedang saya sendiri tidak perlu Anda kenal.


Hadi Cahyadi memandu diskusi kelompok menyusun satu dokumen keluarga yang disebut --

Setelah acara makan siang masing-masing grup berdiskusi sendiri. Diberi waktu setengah jam. Mereka seolah-olah anggota keluarga pengusaha papan atas Indonesia itu. Mereka harus menyusun satu dokumen keluarga yang disebut "konstitusi keluarga" –family constitution.

Masing-masing dibebaskan untuk menganggap diri mereka sebagai generasi pertama, generasi kedua, atau pun generasi ketiga di perusahaan konglomerat itu. Lalu harus menyusun konstitusi keluarga.

Dalam setengah jam mereka sudah harus sepakat. Lalu secara bergantian tampil di depan forum untuk mempresentasikan konstitusi keluarga masing-masing.

Begitulah jalannya workshop konstitusi keluarga yang dilaksanakan Harian Disway sepanjang satu hari Sabtu kemarin.

Di dunia nyata tentu tidak mungkin konstitusi keluarga disusun dalam satu jam.

"Yang paling singkat enam bulan," ujar Hadi Cahyadi.

Bahkan ada yang gagal total: tidak ada kesepakatan di antara anggota keluarga. Kalau sampai seperti itu diperlukan pihak ketiga. Penasihat. Atau konsultan. Hadi adalah konsultan Family Constitution.

"Yang paling berharga dari kesepakatan itu adalah proses perundingannya," ujar Hadi.


Hadi Cahyadi menjelaskan berbagai studi kasus perusahaan keluarga dunia, termasuk konflik keluarga Gucci, sebagai pembelajaran penting dalam menyusun family constitution dan mencegah konflik antargenerasi.--

Dalam proses menuju kesepakatan itu terjadi diskusi keluarga yang sangat intensif. Kadang sampai sangat keras.

Persoalan yang selama itu tidak muncul di keluarga tiba-tiba muncul. Yang selama itu hanya jadi bisik-bisik keluarga dibicarakan terbuka. Dengan demikian potensi konflik di masa depan sudah langsung dicarikan kesepakatannya saat itu juga.

Proses diskusi yang alot biasanya menyangkut "siapa yang disebut keluarga". Apakah menantu termasuk keluarga. Dari praktik selama ini umumnya disimpulkan "menantu bukanlah anggota keluarga".

Yang lebih alot lagi kalau diskusi sudah sampai pada "apakah anggota keluarga boleh bekerja di perusahaan". Kalau boleh bagaimana persyaratannya?

Umumnya mereka sepakat "boleh". Tapi ada syaratnya.

Syarat itulah yang tiap keluarga tidak sama.

Misalnya ada yang mewajibkan punya pengalaman kerja di perusahaan non keluarga paling tidak dua tahun. Ditambah punya pengalaman bekerja di perusahaan keluarga minimal tiga tahun. Tidak bisa, misalnya, anak bos yang baru lulus dari luar negeri langsung ke level atas.

Yang menggembirakan, ujar Hadi, sudah muncul kesadaran bahwa meritokrasi harus diterapkan di antara anggota keluarga. Ini satu kemajuan besar. Tidak lagi anak laki-laki pertama yang harus memimpin perusahaan keluarga. Padahal belum tentu mampu.

Maka siapa yang boleh menjadi CEO perusahaan keluarga juga harus diperdebatkan di proses penyusunan konstitusi keluarga. Umumnya mereka sepakat sebaiknya CEO tetap di tangan keluarga tapi lewat sistem meritokrasi. Juga lewat penyiapan yang cukup: pendidikan, pelatihan, magang, mentoring. Dan mentor terbaik adalah founder perusahaan itu sendiri: sang ayah.

Tapi banyak juga yang sepakat CEO tidak harus dari anggota keluarga.

"Dalam kenyataan, diskusi di keluarga itu sangat painful," ujar Hadi.

Dari workshop ini setidaknya masing-masing peserta punya apresiasi terhadap pentingnya konstitusi keluarga. Peserta datang dari berbagai kota: Medan, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya. Ada yang punya pabrik plastik di 25 kota. Dari tahun ke tahun omzetnya masih terus naik. Perusahaannya terus berkembang.

Ada juga yang punya 16 rumah sakit. Dia ajak anaknya yang baru lulus dari kuliah di Tokyo. Ada pengusaha cat yang selama lima tahun terakhir omzetnya naik tiga kali lipat.

Pengusaha cat itu mengajak anaknya: masih berusia 14 tahun. Namanya Jayson. Ia tidak sekolah. Sejak lulus SD memilih home schooling. "Agar bisa membantu papa bekerja memajukan usaha," ujar Jayson.

Sejak kecil Jayson melihat papanya kerja terlalu keras. Siang malam. Ia ingin seperti papanya. Saat saya minta bicara tentang proses kerja di perusahaan papanya, Jayson sama sekali bukan seperti anak usia 14 tahun. Ia sudah seperti seorang manajer pabrik yang punya pengalaman panjang.

"Sekarang Jayson sedang saya libatkan dalam proses keuangan di perusahaan," ujar sang ayah: lulusan S-1 manajemen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.


Seorang peserta Family Constitution Workshop mengajak anaknya yang masih berusia 14 tahun.--

Banyak sekali pertanyaan peserta untuk Bambang Cimory. Baru sekali ini saya menyaksikan Bambang berbicara di depan forum. Ternyata sangat menarik.

Cara Bambang menceritakan bagaimana proses alih kekuasaan di grup Cimory sangat mengesankan. Cara penyampaiannya pun sangat hidup. Saya ingat yang pernah saya katakan dulu: seorang CEO yang baik adalah juga harus seorang guru yang pintar. Dengan begitu ia bisa membuat anak buah bergerak seirama dengan misinya.

Bambang punya tiga anak. Awalnya mereka harus bekerja di perusahaan milik orang lain yang tingkat stresnya selangit. Yakni yang biasa menetapkan target capaian yang tinggi.

Setelah itu barulah masuk ke perusahaan keluarga. Proses selanjutnya mulai dibebani business development. Di sinilah ketiganya belajar memahami segala aspek perusahaan: produksi, marketing, SDM, sampai keuangan.

Lewat semua itu barulah Bambang mulai melakukan proses peralihan kekuasaan: dari dirinya ke anak-anaknya. Bambang membagi perusahannya menjadi tiga berdasar kelompok usaha. Masing-masing anak memimpin satu kelompok usaha.

Bambang tidak mau tiga anaknya di satu perusahaan: satu jadi dirut, satu jadi direktur produksi/marketing, satunya lagi direktur keuangan. Masing-masing harus mandiri.

Agar di antara tiga kelompok itu tidak saling bunuh dilakukan kepemilikan silang. Satu orang jadi pemegang saham mayoritas di satu kelompok usaha, dua lainnya jadi pemegang saham lebih kecil. Dengan demikian mereka bersaing membesarkan grup usaha masing-masing tapi juga bisa melakukan sinergi.

Di workshop ini banyak peserta yang datang suami-istri. Bambang sendiri juga mengajak istri –yang di awal pertumbuhan Cimory berperan sebagai "penjaga gawang". Dialah yang memeriksa seluruh pengeluaran perusahaan sampai mengecek kebenaran harga-harga, langsung ke supplier.


Bambang Sutianto dan istri saat menjadi pembicara workshop konstitusi keluarga yang dilaksanakan Harian Disway.--

Bambang termasuk berani melakukan alih generasi. Yakni saat ia masih berusaha 60 tahun –sekitar 7 tahun lalu. Ia bangga dan bahagia atas keputusannya itu. Padahal sekarang pun ia masih sangat sehat dan berpikir jernih.

"Jangan sampai keduluan pikun baru ambil putusan," ujar Hadi. "Keputusannya nanti dianggap tidak adil," tambahnya.

Membagi dan menyerahkan perusahaan kadang lebih pusing daripada yang tidak punya perusahaan.(Dahlan Iskan)


Sumber Tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/960444/alih-kekuasaan

Tuesday, July 28, 2026

 

Suhu Politik

Suhu Politik

--

Kalau saja saya punya termometer, suhu politik Indonesia sekarang ini rasanya di sekitar 38 derajat. Termometer Anda mungkin menunjukkan angka 39 derajat. Para pengusaha sebaiknya tidak usah sering-sering buka medsos. Itu akan membuat suhu badan Anda naik jadi 40.

Kalau pun terpaksa melihat medsos jangan sampai melotot. Cukup lirik-lirik saja sedikit. Setelah tahu sekadarnya segeralah putuskan: tidak memercayainya. Sekarang ini sudah sulit membedakan mana aspirasi murni mana aspirasi ''wani piro" --mau bayar berapa. Saya sendiri lebih ikuti medsos kalau bentuknya meme. Lucu-lucu. Sedikit terhibur.

Cara melihat medsos tanpa ikut emosi sangatlah mudah: jangan punya sikap memihak. Ini bukan sepak bola. Kalau menonton sepak bola memang harus memihak; tidak memihak tidak asyik.

Misalnya ada medsos mengatakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin segera diperiksa. Terkait dengan penetapan Febrie Adriansyah sebagai tersangka pencucian uang. Di rumah (waktu itu) Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi Febrie Adriansyah ditemukan emas 74 kg dan berbagai uang asing bernilai Rp 476 miliar. Yang menemukan adalah polisi dari Satuan Pemberantasan Korupsi Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Mereka sengaja melakukan penggeledahan di rumah Febrie yang di Sentul dekat Bogor.

Sejak Febrie menyatakan "itu bukan uang saya" dan ''uang itu ada yang punya'' spekulasi memang bermunculan. Salah satunya: uang itu milik Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Tidak adanya bantahan dari menhan membuat spekulasi itu tidak berhenti.

Maka sebaiknya jangan percaya dulu. Anggap saja itu hiburan. Kalau pun benar, apa untungnya bagi Anda. Tidak ada. Kalau salah tiwas terpanjur percaya.

Saya lihat banyak orang percaya begitu saja pada medsos. Apalagi kalau sudah ada videonya. Padahal di zaman AI ini apalah yang tidak bisa dibuat.

Yang juga penting bagi Anda: jangan menambah panas suhu Istana Merdeka Jakarta. Misalnya dengan cara ikut menjadi kompor: menyebarkan isu adanya dua kubu di Istana yang sudah ''pecah''. Dua-duanya sama-sama tangan kanan Presiden Prabowo: Prof Dr Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin. Wakil Ketua DPR Dasco tangan kanan bidang politik. Menhan Sjafrie tangan kanan bidang keamanan nasional.

Isu seperti itu tidak baru. Juga bukan baru terjadi di zaman Presiden Prabowo. Di semua zaman ada isu seperti itu. Sejak zaman kerajaan Tiongkok kuno. Selalu saja orang di sekitar pusat kekuasaan ingin terlihat 'yang paling dekat' dengan Presiden. Atau 'yang paling dipercaya' Presiden.

Padahal Presiden sendiri bisa jadi tidak percaya siapa pun. Seperti di zaman Pak Harto dulu. Sebagian orang percaya Ali Murtopolah orang kepercayaan presiden di bidang politik. Lalu Sudjono Humardani-lah orang yang paling dipercaya dalam hal spiritual. Seolah Sudjono itu guru kebatinannya Pak Harto.

Ternyata Pak Harto sendiri mendengar isu seperti itu. Ketika belakangan Pak Harto menerbitkan buku, jelaslah semuanya. Menurut Pak Harto justru Sudjono yang berguru soal kebatinan ke Pak Harto. Dan Ali Murtopo dengan gampang "dibuang" begitu saja.

Memang isu di luaran biasanya lebih gawat dari kenyataan sebenarnya. Orang Madura punya istilah yang amat pas untuk menggambarkan itu: wat menggawat. Digawat-gawatkan.

Bagaimana cara melupakan dengan cepat isu-isu di medsos? Mudah. Tetaplah selalu sibuk. Anda yang sedang menekuni dunia usaha konsentrasilah di usaha Anda. Bikinlah target capaian sedikit lebih tinggi dari kemampuan Anda. Politik tidak akan bisa menyelamatkan Anda. Hanya Anda sendiri yang bisa mengatasi kesulitan Anda. Politik tidak akan membantu Anda.

Suhu politik memang sedang tinggi. Ada mal yang sudah mulai bikin pagar baru yang lebih tinggi. Rasanya itu agak berlebihan –mungkin karena terlalu banyak mengikuti masalah-masalah yang wat menggawat di medsos.

Padahal Anda tidak boleh lupa: medsos juga bisa dipakai untuk operasi intelijen. Pihak lawan juga menggunakannya untuk operasi kontra-intelijen. Anda bukan bagian dari keduanya kan? Tidak usahkan memihak. Untuk apa memihak-mihak –yang itu berarti Anda termakan operasi intelijen atau kontra intelijen? (Dahlan Iskan)



sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/959699/suhu-politik

Tuesday, April 21, 2026

Standar Pelayanan Kelas Dunia

 

Halo Wani

Halo Wani

Wani Sabu saat menerima Lifetime Achievement Award di ajang Contact Center World 2025 di Bali.-Instagram Wani Sabu-

Tidak mudah menjadikan Halo BCA juara dunia Contact Center perbankan dunia (baca Disway kemarin). Harus ada Wani sebagai pembangun pertama. Dia wanita hebat. Nama lengkapnyi: Wani Sabu.

Kini Wani menjabat vice president Bank BCA. Tidak hanya itu. Dia juga menjadi vice presiden grup Djarum, Kudus. Bank BCA memang salah satu bisnis di keluarga Djarum.

Awalnya Wani adalah auditor di BCA. Sebenarnya dia orang hukum. Alumnus Universitas Parahyangan, Bandung. Untuk itu dia harus ikut pendidikan khusus auditor di BCA: sampai 18 bulan. Sangat berat. Ia bukan orang ekonomi. Tapi, Wani berhasil jadi lulusan terbaik pendidikan auditor tersebut.

Karir Wani seterusnya pun di auditor. Dia matang di lingkungan auditor. Mendalami juga ilmu fraud di dunia perbankan. Untuk itu dia ambil S-2 di Universitas Tarumanegara. Bahkan kini dalam proses menyelesaikan S-3 kriminologi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Sebentar lagi jadi doktor ilmu kepolisian. 

Keahlian Wani di bidang fraud perbankan diakui di mana-mana. Sampai Wani dipilih untuk menjadi ketua Perbanas bidang fraud: ketua Komite Siber Fraud Perbanas.

Wani adalah auditor yang tidak harus selalu berjiwa tegang. "Saya tipe auditor happy," ujarnyi saat berbincang panjang dengan saya di suatu acara di Jakarta. "Saya orang yang mudah move on," tambah Wani.

Tibalah saatnya terjadi regenerasi kepemimpinan di BCA. Generasi ketiga pemilik Djarum mulai memasuki level pimpinan tertinggi. Cucu pendiri Djarum menjadi wakil dirut BCA: Armand Hartono

Wani dipanggil Armand. Dia dipindah dari tim auditor ke customer service. Tepatnya: ke Halo BCA. 

Perasaan Wani campur aduk waktu itu: apakah karirnyi sedang dijatuhkan? Disingkirkan? Dihukum? Pasti pimpinan menganggap Wani berbuat kesalahan: diturunkan dari kasta tertinggi (auditor) ke kasta terendah.

Wani pun menemui bos barunyi. Di situlah Wani memperoleh kejelasan: Armand ingin BCA dibenahi habis-habisan. Terutama di bidang hubungan bank dengan nasabahnya. Kuncinya: di Halo BCA.

"Orang yang berprestasi akan selalu berprestasi di mana pun ditempatkan".


Plakat dan boneka Monty (maskot contact center world) yang didatangkan dari Kanada.-Instagram Wani Sabu-

Anda masih ingat siapa yang sering mengucapkan 'hukum prestasi' itu.

Pun Wani. Dia melakukan pembenahan total di Halo BCA. Disiplin ditegakkan. Dia membawa budaya auditor ke Halo BCA. Salah satunya: kontrol yang diperketat.

Wani mengadakan mesin khusus untuk bagian Halo BCA. Karyawan yang meninggalkan meja kerjanya harus menekan tombol lebih dulu. 

Tombol itu ada di setiap meja. Tombol itu ada nomornya. 

Tombol nomor 5 misalnya, untuk yang ingin ke toilet. Berarti waktu yang tersedia hanya lima menit. Hanya untuk ke toilet. Tidak bisa mampir merokok atau menyambangi teman di ruang lain. Di menit keenam dia/ia harus sudah kembali di meja kerja.

Tombol nomor 2 untuk salat. Ada waktunya. Tombol nomor 3 untuk makan. Tombol no 1 untuk yang ikut rapat. Dan seterusnya.

Wani pun melakukan pendidikan khusus bagi karyawan di bagian itu. 


Profil Wani Sabu yang terpajang di dinding pusat Halo BCA.--

Halo BCA kian baik. Tidak ada lagi orang Halo BCA yang justru memarahi nasabahnya lewat telepon.

Wani masih ingat: ada nasabah yang komplain karena ditegur keras petugas BCA. Sampai ada nasabah yang dimaki. Dimarahi. 

Wani sampai melakukan penelitian: kata paling kasar apa yang diucapkan petugas Halo BCA kala itu. "Yang paling banyak digunakan adalah kata 'bego', 'bodoh', dan 'nama binatang'," ujar Wani.

"Binatang apa yang sering diucapkan?" tanya saya.

"Yang terbanyak 'anjing dan babi'," jawab Wani lantas tertawa.

Semua itu sudah menjadi kenangan masa lalu.

Memang kadang nasabah tidak kunjung mengerti penjelasan petugas yang disampaikan sampai berkali-kali. Ada nasabah yang marah. Nasabah itu kian marah karena justru dilawan marah oleh petugas bank.

Yang seperti itu sudah lama tidak ada lagi. Kini bahkan satpam BCA pun menjadi bagian dari pelayanan nasabah. Satpam BCA tahu ke mana nasabah yang bertanya kepadanya: harus disalurkan ke bagian yang bisa menyelesaikan persoalan. 

"Satpam BCA dididik khusus untuk itu," ujar Jayanti Zainal yang sudah Anda kenal.

Layanan di BCA pun kian memuaskan. Sistem telepon diganti digital. Yang dulu hanya melayani komplain diperluas ke jasa komersial: sampai ke pembukaan rekening baru secara digital –pemrek Digital. Orang bisa buka rekening BCA tanpa harus datang ke bank.

Wani orang Jambi. Marganyi Huang. 黄婉玉. Dia lulus SMA Katolik di Jambi. Punya anak hanya satu: putri. Kini sang putri bekerja di Bloomberg. Di London, Inggris.

Hasil kerja keras Wani sangat nyata. Juara dunia contact center sampai 15 kali. Reputasi BCA menjadi sangat tinggi. Kapitalisasi market di pasar modalnya menjadi yang terbesar di Indonesia –mengalahkan Bank BRI dan Mandiri yang asetnya jauh lebih besar dari BCA.

Armand pun terus menaikkan Wani ke jenjang yang lebih tinggi: seperti sekarang ini. Bahkan membawanyi ke holding Djarum.

Wani masih sering datang ke Halo BCA di Foresta. Pun Armand. Saring membawa tamu ke Foresta. Mereka begitu bangga Halo BCA dijadikan andalan oleh pimpinan tertinggi.

Dari BCA Foresta, saya diajak ke BCA BSD City. Juga ada Halo BCA di situ. Perjalanan 10 menit. Di situlah dulu Wani berkantor. Kantor lama Wani kini jadi ruang rapat.

Masih ada satu lagi pusat Halo BCA: di BCA Tang City. Saya tidak sempat ke sana. Harus segera mengisi acara di Asian Tiger CEO Mastermind.

Total ada tiga contact center di sekitar Jakarta. Tapi tiga center itu, dijadikan satu sekali pun masih kalah besar oleh yang di BCA Semarang. 

Semua jenis layanan Halo BCA ada di Semarang. Sampai punya Hall of Fame. Sebenarnya saya lebih diharapkan meninjau yang di Semarang. Di sana juga banyak 5i nya. Di situ pula piala BCA juara dunia 15 kali disimpan. Termasuk foto Wani saat kali pertama menerima piala dunia.

Maka saya menetapkan hati bahwa Kartini saya tahun ini adalah ini: Wani! (Dahlan Iskan)


Sumber Tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/942482/halo-wani

Wednesday, October 15, 2025

Obati kanker dengan stemcell

 

Pasien T-Cell

Pasien T-Cell

--

Mata Dr Karina berkaca-kaca. Kaget campur bahagia. "Saya akan tulis ini di jurnal," kata dokter ahli biomedik yang mendalami stem cell --khususnya T-Cell dan NK-Cell.

Saya mampir klinik Hayandra, milik Karina, sebelum berangkat ke Shanghai Selasa lalu.

Setiap kali bercerita tentang pasiennyi itu matanyi berkaca. "Ia datang ke sini pakai kursi roda. Ia pasrah mau diapakan saja. Kankernya sudah menyebar. Sudah stadium empat," ujar Karina --yang di status HP saya tulis namanyi sebagai Karina Keriting.

Sampai sekarang rambut Karina masih keriting. Masih 5i. Sudah empat tahun saya tidak bertemu Karina. Terakhir ketika saya menjalani PRP di klinik Hayandra pada 2021 lalu. (Disway 6 Agustus 2021).

"Anda apakan pasien kanker paru itu?" tanya saya.

"Saya tawari terapi T-cell," kata Karina.

Pasien itu sudah tidak punya pilihan lagi. Sudah berbagai pengobatan dilakukan. Ia ikut saja apa kata Karina.

Karina sendiri tidak menjanjikan apa-apa. Dia hanya menceritakan bahwa ibunyi sendiri pada 2016 menderita kanker usus. Usus sang ibu sudah berhasil dipotong. Tapi sang ibu tidak mau melakukan kemo. Padahal setelah usus dipotong harusnya menjalani kemo. Agar bibit-bibit kanker yang mungkin masih tersisa bisa dibasmi.

Akhirnya Karina membawa sang ibu ke Jepang. Waktu itu Karina sedang menyelesaikan S-3. Yakni program doktor biomedik di Universitas Indonesia.

Dia kalahkan sekolahnyi itu. Dia dampingi sang ibu ke Jepang.

Di Jepang sang ibu, seorang dokter ahli kulit, menjalani terapi T-cell. "Saya bertekad, kalau ibu saya sembuh akan membawa teknologi T-cell Jepang itu ke Indonesia," ujar Karina.

Sang ibu ternyata sembuh. Sampai sekarang masih sehat. Karina pun membawa paten T-Cell dari Jepang itu ke Indonesia. Lalu dia jalankan T-Cell di klinik Hayandra. Sampai sekarang. Termasuk ke pasien kanker paru yang sudah menjalar ke tulang itu.

Karina ditanya pasien itu: "Harus berapa kali terapi T-cell?"

Karina agak ragu menjawab. Stem cell itu mahal. Harus dilakukan berkali-kali pula. Karina tidak tahu latar belakang ekonomi pasien itu. Tapi dia harus mengatakannya: "lima belas kali".

Itu pun Karina tidak menjamin: apakah dengan 15 kali sudah bisa sembuh. Dalam hati dia sendiri ragu: pasien itu sudah dalam stadium empat.

"Ternyata ia mau. Berarti beliau punya uang," kata Karina. "Belakangan saya tahu beliau  seorang pengusaha," tambahnyi.

Anda sudah tahu: sekali suntikan, cell muda-sehat yang dimasukkan tubuh umumnya berjumlah antara 70 juta sampai 150 juta cell. Tapi T-cell yang dimasukkan Karina ke tubuh pasien tersebut mencapai 1,2 miliar cell baru. Sekali suntik.

Cell baru itu diambil dari pasien sendiri. Dari darah. Dari cell yang ada di darah atau lemak itu dipilih beberapa cell jenis T-cell yang masih muda dan sehat. Lalu dibiakkan di lab milik Hayandra. Sampai menjadi di atas satu miliar cell. Waktu pembiayakannya sekitar 15 hari --lebih lama dari pembiakan stem cell biasa.

Karina memiliki teknologi pembiayakan yang sampai lebih satu miliar cell. Dia memang membeli paten itu dari Jepang. Lalu dia lakukan penyempurnaan.

Di samping ahli bedah plastik Karina juga ahli stemcell. Jurnal ilmiah di bidangnya sudah mencapai 36 karya. Itu baru yang tingkat Scopus. Belum lagi yang tingkat nasional.

Karina adalah dokter yang tetap jadi ilmuwan. Dia tidak berhenti sebagai dokter. Dia terus mendalami stemcell. Apalagi ibunyi sudah sembuh. Gelar doktornyi sudah selesai. Nilai gelar doktornyi sangat bagus.

Bahwa dia tidak cumlaude itu hanya karena waktu penyelesaian doktornyi molor --demi ibundanyi yang harus berobat ke Jepang.

Bagaimana dengan pasien kanker paru yang sudah menjalar ke tulang itu? Bolehkah saya mendapat nomor kontaknya?

"Saya harus minta izin dulu ke pasien saya," ujar Karina.

Sampai saya terbang ke Shanghai nomor kontak itu belum saya dapat. Tapi begitu saya tiba di Hangzhou Dr Karina WA saya.

"Tadi pagi pasien saya datang ke Hayandra," ujar Karina.

"Masih pakai kursi roda?"

"Tidak lagi. Bahkan ia datang setir mobil sendiri," ujar Karina.

"Sudah sembuh? Kok sudah bisa setir mobil?"

"Sudah sembuh. Bahkan ia bercerita baru saja dari Malang. Pakai mobil. Juga setir sendiri," kata Karina mengutip kata-kata pasien itu. "Ia juga mengaku sudah main basket lagi," tambah Karina.

Umur pasien itu memang masih 49 tahun. Hobinya basket. Di suntikan T-cell yang keenam ia sudah tidak lagi di kursi roda.

Apakah diizinkan dapat nomor tilponnya?

"Saya sudah minta izin. Mula-mula ragu. Lalu bertanya apakah tidak akan mencelakakan dirinya," ujar Karina.

Akhirnya Karina bisa mendapat izin itu. Saya pun dikirimi nomor HP pasien itu. Juga nomor HP istrinya. Tapi saya sudah telanjur  padat acara di Hangzhou. Saya akan hubungi pasien itu sekembali ke Jakarta. Sekalian bertamu ke rumahnya.

Waktu datang ke Hayandra kemarin itu Si pasien akan menjalani T-cell untuk kali ke - 11. Berarti kurang empat kali lagi. Karina menganjurkan untuk tetap menyelesaikan program 15 kali T-cell meski pasien sudah dinyatakan bersih dari kanker.

"Siapa yang menyatakan kankernya sudah bersih?"

"Hasil petscan," ujar Karina.

"Kebetulan dokter yang melakukan patscan terakhir ini juga dokter yang melakukan patscan pertama yang mengatakan kankernya sudah menjalar ke tulang," ujar Karina.

Kepada saya lantas ditunjukkan hasil petscan pertama dan petscan terakhir. Tidak hanya hasil scan. Juga uraian atas hasil petscan itu.

Saya diminta membandingkannya. "Lihat hasilnya. Sudah bersih," katanyi. Saya lihat sekilas hasil patscan itu.

Saya tidak bisa membacanya.(Dahlan Iskan)


sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/904586/pasien-t-cell

Friday, August 29, 2025

Suatu Hari… di Jawa Pos

 Oleh: Djono W. Oesman

Orang paling kubenci pada 1984 itu bernama Dahlan Iskan. Waktu itu saya wartawan Jawa Pos. Masuk per 1 Agustus 1984. Dahlan pemimpin redaksi Jawa Pos. Hampir semua penugasan jurnalistik darinya, bukan dari redaktur. Itu tidak struktural. Tugasnya pun kejam-kejam. Saya benci.

MASAK, di suatu kasus pembunuhan di Surabaya waktu itu, saya ditugasi wawancara mendalam dengan keluarga pelaku? Keluarga kan malu. Mereka pasti ngumpet (pikirku sebelum melaksanakannya). Apalagi, Dahlan memberikan perincian tugas: pelaku (pria usia 24 tahun, baru saja ditahan polisi, motif dendam) harus dideskripsikan lengkap. Antara lain: Kisah saat ia lahir dulu bagaimana? Menyusahkan ortu, tidak? Misalnya, apakah ia lahir sungsang atau normal? Ceritakan. Semasa ia bayi bagaimana? Waktu balita bagaimana (di sini banyak pertanyaan detail). Apakah ia pernah dipukul anggota keluarga karena nakal, misalnya? Atau suka diejek, dihina, bertujuan memotivasinya?

Saat sekolah ia bagaimana? Saat remaja bagaimana? Saat dewasa bagaimana? Hari-hari sebelum ia membunuh, ceritanya bagaimana? Dan, jangan lupa: Teori 5W plus 1H di setiap detail segmen. Bukan cuma di keseluruhan cerita. ”Di tiap detail. Oke?” ujar Dahlan. Saya manggut-manggut. Refleks, manggut-manggut. Pikirku: ”Ajur… iki.” Hal itu sesungguhnya riset kriminologi. Saya memang sarjana (S-1) sosiologi, yang antara lain diajari kriminologi. Tapi, riset kriminologi dilaksanakan tim ahli. Berbulan-bulan. Bukan cuma saya sendirian. Dengan deadline hari itu juga pukul 17.00. Atau, sekitar enam jam kemudian. Saya benci Dahlan. Aslinya, sebenarnya saya takut melaksanakan tugas itu. Bukan takut kepada keluarga pembunuh. Bukan. Saya, kan wartawan Republik Indonesia. Mesti berani. Melainkan, takut gagal. Sebagai wartawan Jawa Pos yang baru masuk, saya sudah menyelidik, kalau gagal tugas, langsung goodbye. Tidak layak Jawa Pos. Sudah beberapa senior saya yang goodbye. Yang senior sekali, tapi gagal dalam tugas, dibuang ke bidang yang tidak ia sukai. Supaya goodbye sendirinya. Mau tidak mau, saya laksanakan tugas. Grogi, pasti. Namun, harus maju. Atau goodbye. Alamat pelaku saya dapat dari polisi. Di Surabaya Utara. Berangkat saya ke sana dengan motor Suzuki A100 tangki kates (pepaya). Matahari di langit Surabaya tersenyum ceria. Panasnya menyengat kulit. Lalu lintas? Jangan tanya. Macet. Campuran antara mobil, bemo, motor, sepeda, becak, aneka gerobak ditarik orang. Tumplek di jalan raya.

Ketemulah rumah itu. Di anak gang. Ada gang sempit, masuk lagi ke gang yang lebih sempit. Sebuah rumah papan kayu sangat kecil. Cat hijau tua. Kusam. Rumah kosong. Pintunya terbuka, kosong. Ketika saya masuk anak gang itu, warga mengamati saya. Ketat. Mereka, pelan-pelan, berkerumun. Beberapa pemuda mengikuti saya. Antusias. Ada yang tanya: ”Mas polisi, ya?” ”Bukan. Saya Djono, wartawan Jawa Pos.” ”Oh... sejak anaknya ditangkap kemarin, orang tuanya (tuan rumah) pindah, tadi pagi.” ”Pindah ke mana?” Ia menoleh ke teman-teman di sekelilingnya. Lalu, di antara teman, muncul pemuda menyeruak maju. ”Kami tidak tahu. Kalau Sampean bukan polisi, jangan cari-cari masalah,” katanya, melotot. Saya kaget dengan ancaman itu. Saya tidak siap. Lalu, saya jawab begini: ”Saya wartawan Republik Indonesia. Saya melaksanakan tugas negara ke sini. Bukan cari masalah.”

Ternyata mata pemuda itu meredup. Pelan-pelan. Gesturnya berubah, tidak lagi mengancam. Mungkin, karena tambahan kata-kata ”Republik Indonesia” itu, ia jadi redup. Mungkin, ia terbayang kata ”Angkatan Bersenjata Republik Indonesia” (waktu itu, ABRI). Mungkin, ia anggap dua hal itu bedabeda tipis. Mungkin. Tapi, ia tampak masih emosional. ”Kami di sini tidak tahu alamat barunya,” ujarnya, sambil menjauh. Saya terus menggali. Berakrab-akrab dengan para pemuda itu. Tapi, nihil. Mereka semua takut kepada pemuda yang pergi tadi. Saya pun mencari cara lain.

Singkat cerita, saya sukses tugas. Target tercapai. Lengkap, 5W plus 1H di tiap detail. Juga, pastinya 5W plus 1H di struktur cerita. Tiba di kantor Jawa Pos, Jalan Kembang Jepun 167, saya langsung dicegat Dahlan. Di ujung tangga yang menuju ruang redaksi. Ia tidak cuma menunggu saya, tapi juga menunggu semua wartawan Jawa Pos lainnya yang baru tiba di kantor. Dahlan ke saya cuma berucap satu kata: ”Bagaimana?” ”Beres dan lengkap, Pak,” jawab saya. Dahlan tersenyum lebar. Ia menepuknepuk pundak saya. Kemudian, ia berteriak kepada puluhan wartawan dan redaktur di ruang redaksi yang terbuka tanpa sekat itu: ”Pengumuman… Headline sedang diketik DWO.” DWO adalah kode jurnalistik saya.

Tulisan ini bukan tentang bagaimana cara saya meliput berita. Bukan. Melainkan, tentang isi koran Jawa Pos di zaman itu. Dan, siapa yang memimpin. Serta, bagaimana cara kepemimpinannya. Anda sudah baca, koran Jawa Pos sebelum tahun 1982 tidak laku. Dibagikan gratis oleh asongan di perempatan jalan-jalan di Surabaya yang panas pun, orang tidak mau mengambil. Ada pemotor yang mengambil, lalu dibuang lagi. Mengotori jalanan. Sejak 1982 koran itu dibeli PT Grafiti Pers (pemilik majalah Tempo). Dahlan Iskan yang semula wartawan Tempo dengan jabatan kepala Biro Jatim ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Jawa Pos. Dahlan memimpin dengan cara tersebut di atas. Hasilnya luar biasa. Ketika koran-koran memuat berita kriminal dari rilis polisi, Jawa Pos melakukan riset kriminologi. Riset dilakukan dalam beberapa jam. Itu baru di satu berita. Padahal, setiap hari ada puluhan berita. Kualitas puluhan berita itu setara dengan berita yang ditugaskan ke saya. Semua atas penugasan dari Dahlan.

Itu baru satu hari. Sedangkan, Dahlan memimpin Jawa Pos sampai dengan ia ditunjuk negara jadi direktur utama PLN pada 2009. Atau, 27 tahun ia memimpin Jawa Pos. Dengan cara yang konsisten seperti itu. Hasilnya, Jawa Pos menjadi perusahaan pers raksasa. Total aset puluhan triliun rupiah. Dahlan Iskan dijadikan tersangka oleh Polda Jatim karena laporan salah seorang HRD Jawa Pos sekarang. Dari tulisan Dahlan Iskan yang dimuat di Disway kemarin, saya baru tahu. Bahwa takeover Jawa Pos pada 1982 dari pemilik lama The Chung Shen oleh PT Grafiti Pers, uang pembeliannya diminta lagi oleh Dirut PT Grafiti Pers (saat itu) Eric Samola. Pada 1984. Uangnya dikembalikan Eric ke kas PT Grafiti Pers lagi. 

Uang itu dari hasil usaha Jawa Pos selama dua tahun sejak takeover. Dari koran tidak laku sebelum 1982 menjadi pembayar pengembalian dana takeover pada 1984. Sudah lunas. Sudah impas. Artinya, Grafiti sudah tidak bermodal duit lagi. Nol. Maka, jika disebut bahwa Jawa Pos adalah Dahlan Iskan, sudah selayaknya disebut begitu. Kini orang di perusahaan yang dibesarkan Dahlan itu membikin Dahlan jadi tersangka kriminal. Tulisan ini bisa dianggap membela Dahlan Iskan. Memang begitu. Dimuat di Disway lagi, yang didirikan Dahlan. Seperti membela diri di kandang sendiri. Ya, pasti begitu. Seumpama dibalik. Tulisan ini saya kirimkan ke Jawa Pos, karena isi tulisan menyangkut kilasan kisah di balik proses liputan berita Jawa Pos oleh wartawan Jawa Pos saat itu. Ya… naskahnya langsung dibuang. Sampah.

Atau, seumpama tulisan ini saya kirimkan ke media massa lain. Netral. Maka, media massa lain itu mikir. Sebab, seandainya memuatnya, mereka berarti berkonfrontasi dengan Jawa Pos. Apakah mau? Inti tulisan ini: Jawa Pos adalah Dahlan Iskan. Tidak pantas orang Jawa Pos memolisikan Dahlan yang membesarkannya. (*)

sumber tulisan : https://harian.disway.id/readepaper/1626/modal-menuju-super-league#flipbook-df_manual_book/11/  

Thursday, August 21, 2025

Buku Juklak Menjalankan Pemerintahan

 

Pemegang Deliverology

Pemegang Deliverology

--

Bocoran dari para menteri ekonomi: Presiden Prabowo bisa minta rapat jam berapa saja. Hari apa saja. Tidak peduli larut malam. Pun akhir pekan.

Tidak ada tanggal merah di kalender presiden. Saat para pegawai menikmati cuti bersama tanggal 18 Agustus Presiden memenuhi hari itu dengan rapat dan rapat.

Bagi orang seperti Dr Yanuar Nugroho, yang lebih menarik adalah ”siapa yang lantas memonitor hasil rapat itu”.

Dr Yanuar adalah salah satu ahli ilmu deliverology di Indonesia. Ia alumni Inggris --tempat lahirnya ilmu itu.

Yanuar lulusan ITB teknik industri. Masuk tahun 1990, setelah tamat SMAN 3 Solo. Lalu ia ambil S-2 di Manchester (Information Systems Engineering). S3-nya juga di Manchester: Studi Inovasi. Masih lanjut postdoktoral di bidang Knowledge Dynamics, Sustainability, dan Political Economy of Technological Innovations and Social Change.

Yanuar tidak langsung pulang. Ia diminta jadi dosen dan peneliti di University  of Manchester Business School. "Saya pulang karena dipanggil  pak Kuntoro tahun 2012," ujarnya.

Di zaman Presiden SBY Kuntoro Mangkusubroto adalah pemegang kendali monitor pembangunan.

"Siapa yang menjadi Pak Kuntoro-nya sekarang ini?" tanya saya pada Yanuar kemarin.

"Saya juga tidak tahu," jawab  Yanuar.

"Di zaman Presiden Jokowi pemegang monitornya adalah KSP --Kepala Staf Presiden. Apakah saat ini KSP masih ada?" tanya saya lagi.

"Saya tidak tahu juga," jawabnya.

Saya sudah kenal Yanuar lama sekali. Saat ia masih sangat muda. Yakni ketika Yanuar bekerja di UKP4. Dr Kuntoro adalah kepala UKP4 --unit kerja presiden bidang pengawasan dan pengendalian pembangunan.

Saya sering rapat di kantor UKP4. Di situ saya ”ditagih”:  sampai di mana pelaksanaan program-program penting di bawah tanggung jawab saya. Kadang nagihnya sangat keras.

Tentu banyak juga hambatan. Saya harus menunggu hambatan itu diselesaikan kementerian lain. Dalam Hal seperti itu kadang Pak Kuntoro membisiki saya sebelum rapat: "Nanti kamu bicara yang keras di rapat. Biar yang menghambat itu segera selesaikan tugasnya".

Rapat pun dimulai. Saat giliran saya bicara saya mulai dengan kalimat begini: "Sebelum rapat tadi saya dibisiki Pak Kuntoro agar saya bicara keras. Maka saya akan bicara keras". Mendengar itu Pak Kuntoro mengepalkan tangan seperti akan meninju saya dari jauh. Suasana rapat pun cair. Kita saling bicara keras agar program yang terhambat bisa segera selesai.

Ketika Presiden Jokowi menjabat presiden, Yanuar masih dibawa dari UKP4 ke KSP --dengan jabatan lebih tinggi. Tapi ia mengundurkan diri di pereode kedua Jokowi. Yanuar tidak tahu lagi apakah setelah itu KSP masih bebas politik.

Kini Presiden Prabowo punya begitu banyak program besar. Saya hanya bisa menebak siapa yang memegang ”dashboard” program-program besar presiden.

Tebakan pertama saya: Letkol Teddy. ”Dashboard” itu dipegang sendiri oleh  sekretaris kabinet itu.

Tebakan saya berikutnya: ”dashboard” itu dipegang oleh menteri sekretaris negara, Prasetyo Hadi. Atau dipegang langsung oleh Ketua Bappenas, Rachmat Pambudy.

Entah yang mana. Mungkin tebakan saya itu salah semua. Anda coba tebak sendiri berdasar akses yang Anda miliki.

Dalam ilmu deliverology lembaga seperti UKP4 atau KSP sering disebut ”pemegang dashboard”. Yakni dashboard pembangunan.

Anda benar. Istilah dashboard diambil dari dashboard di mobil. Di dashboard mobil terlihat semua indikator jalannya mobil: kecepatan berapa, gasnya berapa, remnya berapa, suhu berapa, mana ban yang kurang angin, apakah waktunya ganti oli dan seterusnya.

Pun di pembangunan. Khususnya program-program penting presiden. Semua harus terbaca di dashboard. Ada ilmunya di bidang itu.

Anda sudah tahu: penemu ilmu ”dashboard” pembangunan adalah ilmuwan Inggris: Michael Barber. Saking pentingnya penemuan itu sampai kerajaan Inggris memberinya gelar ”Sir”.

Begitu banyak buku yang ia tulis di bidang deliverology. Salah satunya pasti Anda sudah baca: How to Run a Government: So That Citizens Benefit and Taxpayers Don’t Go Crazy (2015). Yakni buku juklak praktis bagaimana menjalankan pemerintah secara efektif dan efisien.

Masih banyak lagi bukunya di bidang itu. Sampai Inggris, Jepang, Singapura, dan banyak negara maju lainnya mengaku memanfaatkan ilmu dari Sir Michael Barber.

Melihat banyaknya rapat yang dilakukan Presiden Prabowo saya membayangkan ”pemegang dashboard'” pemerintah sekarang pastilah tidak bisa meleng sekedipan pun --seperti seorang pembalap mobil Formula One --siap pun orangnya.

Awas! Tikungan! (Dahlan Iskan)


sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/893192/pemegang-deliverology

Friday, August 08, 2025

 

Trio Kwek

Trio Kwek

Para pemimpin negara yang tergabung dalam BRICS berfoto bersama dalam KTT BRICS di Johannesburg, Afrika Selatan, 2023 silam.--

Anda benar-benar tahu lebih dulu dari saya: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan tarif tambahan untuk India: 25 persen. Total menjadi 50 persen. Persis sama dengan yang dikenakan Trump pada Brasil.

Sikap pemimpin India, Narendra Modi, lebih keras dari pemimpin Brasil Lula da Silva. "Saya harus melindungi para petani India. Ini harga mati," ujar Modi blak-blakan. Ia tidak takut dengan tarif 50 persen itu. "Saya juga harus melindungi nelayan kami. Peternak susu kami," tambahnya.

Begitu manis di telinga rakyat jelata di bawah  India.

Modi sendiri segera ke Tiongkok. Itu kunjungan pertama dalam tujuh tahun terakhir. Kebetulan ada ”KTT Forum Tetangga”. Tempatnya,  tahun ini, di Tianjin --30 menit naik kereta cepat dari Beijing. KTT itu adalah forum negara-negara yang berbatasan dengan Tiongkok.

Tiongkok punya tetangga  sebanyak 14 negara. Tidak ada negara lain yang ”tetangga sebelah”-nya sebanyak itu. Forum Tetangga ini bukan pertemuan formal. Ini forum informal: Shanghai Corporation Organisation. Lebih sering dilaksanakan di Shanghai.

Kunjungan Modi tanggal 31 Agustus nanti menjadi lebih penting setelah sama-sama jadi korban Donald Trump. Apalagi sejak tegang akibat kontak senjata di lembah Himalaya Modi belum pernah ke Tiongkok.

Memang agak sulit menyilangkan kepentingan antar dua negara. Sama-sama haus energi. Sama-sama impor minyak dari Rusia. Tiongkok terbanyak, India runner-up.

Sebenarnya ada yang bisa dikerjasamakan: gas Rusia dialirkan ke India lewat daratan Tiongkok. Toh Tiongkok sudah punya jaringan pipa gas sampai Kunming. Bisa disambung ke daratan India. Seperti Eropa memasang pipa gas dari Rusia lewat daratan Ukraina. Juga lewat bawah laut di selatan Finlandia.

Selebihnya: Tiongkok dan India adalah pesaing di banyak  bidang. Hubungan mereka lebih sensitif. Saya heran mengapa India mau menjadi pendiri BRICS bersama Tiongkok, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan. Jangan-jangan India berpikir justru harus masuk BRICS agar tahu perut Tiongkok lebih dalam --sebagai pesaing apa saja.

Yang jelas India memang punya sikap independen yang tinggi. BRICS bisa jadi alternatif dalam menghadapi dominasi blok Barat.

Bagi Tiongkok lebih mudah memberikan solidaritasnya ke Brasil. Tiongkok memerlukan Brasil: kedelainya. Apalagi setelah sulit mendapatkan pasok kedelai dari Amerika Serikat.

Maka di saat Brasil dikenakan tarif 50 persen, Tiongkok langsung buka tangan: silakan ekspor kopi ke Tiongkok. Tanpa bea masuk.

Itu bentuk solidaritas Tiongkok  yang luar biasa bagi Brasil. Si Samba adalah produsen kopi terbesar di dunia. Arabicanya. Robustanya. Selama ini ekspor terbesarnya ke Amerika. Di saat pukulan berat, sahabat menjulurkan tangan.

Apalagi Tiongkok sekarang dalam proses beralih dari teh ke kopi. Lebih satu miliar orang akan beralih ke kopi.

Di Tiongkok, kafe sudah  bermunculan seperti jamur. Dulu saya sangat jarang melihat orang Tiongkok minum kopi. Minumnya selalu teh. Botol yang dibawa selalu berisi teh. Di mobil minuman yang ditaruh di sebelah kemudi adalah teh.

Teman saya, pemilik Kopi Kapal Api, pernah investasi pabrik kopi di Shanghai. Gagal. Terlalu dini. Ia seperti jualan sepatu di Afrika di zaman semua orang lebih merasa enak tanpa alas kaki. Bertahun-tahun Kapal Api  mencoba bertahan. Tidak berhasil. Rugi terus.

Dasar hoki, ia tiba-tiba ketiban rezeki: Pemda Shanghai akan membangun arena balap mobil Formula One. Lokasinya mencakup pabrik kopinya. Ia kena gusur. Dapat ganti rugi yang sangat besar. Seluruh kerugiannya bertahun-tahun terbayar oleh proyek Formula 1.

Belakangan ia melihat orang Tiongkok mulai gemar minum kopi. Maka ia terpikir untuk membuka pabrik kopi lagi di sana. Lokasinya di antara Shanghai dan Hangzhou. Kini, saya dengar, usahanya itu sukses. Saya sudah beberapa kali ditawari mengunjunginya tapi masih belum dapat waktu.

Cafe asal Amerika pun, Xing Ba Ke (星巴克) kini punya 7.500 gerai di seluruh Tiongkok. Target berikutnya: tahun depan menjadi 9.000 gerai.

Di sana, kalau Anda bertanya di mana Starbucks akan sulit mendapat jawaban. Tapi kalau Anda bertanya di mana Xing Ba Ke, Anda langsung ditunjukkan di mana Starbucks.

Sukses Xing Ba Ke itu ditangkap pengusaha lokal. Ia bikin pesaing Starbucks. Namanya: Luckin Coffee. Dalam sekejap mengejar Xing Ba Ke. Lalu menyalipnya. Kini jauh meninggalkannya: akhir Maret lalu sudah punya 24.000 gerai. Empat bulan kemudian menjadi 26.000 gerai.

Dalam bahasa lokal Luck'in Coffee disebut Ruixing (瑞幸咖啡). Logonya bukan kepala gajah atau kepala banteng, tapi kepala kijang.

Maka Brasil sudah menemukan pasar baru untuk produk utamanya. Akan bersaing dengan kopi produk Indonesia yang dibawa ke sana oleh Kapal Api.

Brasil, India, Tiongkok kini jadi trio kwek-kwek yang teriakan mereka bisa memekakkan telinga Trump: kwek-kwek-kwek-kwek...(Dahlan Iskan)


sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/890361/trio-kwek