Friday, August 29, 2025

Suatu Hari… di Jawa Pos

 Oleh: Djono W. Oesman

Orang paling kubenci pada 1984 itu bernama Dahlan Iskan. Waktu itu saya wartawan Jawa Pos. Masuk per 1 Agustus 1984. Dahlan pemimpin redaksi Jawa Pos. Hampir semua penugasan jurnalistik darinya, bukan dari redaktur. Itu tidak struktural. Tugasnya pun kejam-kejam. Saya benci.

MASAK, di suatu kasus pembunuhan di Surabaya waktu itu, saya ditugasi wawancara mendalam dengan keluarga pelaku? Keluarga kan malu. Mereka pasti ngumpet (pikirku sebelum melaksanakannya). Apalagi, Dahlan memberikan perincian tugas: pelaku (pria usia 24 tahun, baru saja ditahan polisi, motif dendam) harus dideskripsikan lengkap. Antara lain: Kisah saat ia lahir dulu bagaimana? Menyusahkan ortu, tidak? Misalnya, apakah ia lahir sungsang atau normal? Ceritakan. Semasa ia bayi bagaimana? Waktu balita bagaimana (di sini banyak pertanyaan detail). Apakah ia pernah dipukul anggota keluarga karena nakal, misalnya? Atau suka diejek, dihina, bertujuan memotivasinya?

Saat sekolah ia bagaimana? Saat remaja bagaimana? Saat dewasa bagaimana? Hari-hari sebelum ia membunuh, ceritanya bagaimana? Dan, jangan lupa: Teori 5W plus 1H di setiap detail segmen. Bukan cuma di keseluruhan cerita. ”Di tiap detail. Oke?” ujar Dahlan. Saya manggut-manggut. Refleks, manggut-manggut. Pikirku: ”Ajur… iki.” Hal itu sesungguhnya riset kriminologi. Saya memang sarjana (S-1) sosiologi, yang antara lain diajari kriminologi. Tapi, riset kriminologi dilaksanakan tim ahli. Berbulan-bulan. Bukan cuma saya sendirian. Dengan deadline hari itu juga pukul 17.00. Atau, sekitar enam jam kemudian. Saya benci Dahlan. Aslinya, sebenarnya saya takut melaksanakan tugas itu. Bukan takut kepada keluarga pembunuh. Bukan. Saya, kan wartawan Republik Indonesia. Mesti berani. Melainkan, takut gagal. Sebagai wartawan Jawa Pos yang baru masuk, saya sudah menyelidik, kalau gagal tugas, langsung goodbye. Tidak layak Jawa Pos. Sudah beberapa senior saya yang goodbye. Yang senior sekali, tapi gagal dalam tugas, dibuang ke bidang yang tidak ia sukai. Supaya goodbye sendirinya. Mau tidak mau, saya laksanakan tugas. Grogi, pasti. Namun, harus maju. Atau goodbye. Alamat pelaku saya dapat dari polisi. Di Surabaya Utara. Berangkat saya ke sana dengan motor Suzuki A100 tangki kates (pepaya). Matahari di langit Surabaya tersenyum ceria. Panasnya menyengat kulit. Lalu lintas? Jangan tanya. Macet. Campuran antara mobil, bemo, motor, sepeda, becak, aneka gerobak ditarik orang. Tumplek di jalan raya.

Ketemulah rumah itu. Di anak gang. Ada gang sempit, masuk lagi ke gang yang lebih sempit. Sebuah rumah papan kayu sangat kecil. Cat hijau tua. Kusam. Rumah kosong. Pintunya terbuka, kosong. Ketika saya masuk anak gang itu, warga mengamati saya. Ketat. Mereka, pelan-pelan, berkerumun. Beberapa pemuda mengikuti saya. Antusias. Ada yang tanya: ”Mas polisi, ya?” ”Bukan. Saya Djono, wartawan Jawa Pos.” ”Oh... sejak anaknya ditangkap kemarin, orang tuanya (tuan rumah) pindah, tadi pagi.” ”Pindah ke mana?” Ia menoleh ke teman-teman di sekelilingnya. Lalu, di antara teman, muncul pemuda menyeruak maju. ”Kami tidak tahu. Kalau Sampean bukan polisi, jangan cari-cari masalah,” katanya, melotot. Saya kaget dengan ancaman itu. Saya tidak siap. Lalu, saya jawab begini: ”Saya wartawan Republik Indonesia. Saya melaksanakan tugas negara ke sini. Bukan cari masalah.”

Ternyata mata pemuda itu meredup. Pelan-pelan. Gesturnya berubah, tidak lagi mengancam. Mungkin, karena tambahan kata-kata ”Republik Indonesia” itu, ia jadi redup. Mungkin, ia terbayang kata ”Angkatan Bersenjata Republik Indonesia” (waktu itu, ABRI). Mungkin, ia anggap dua hal itu bedabeda tipis. Mungkin. Tapi, ia tampak masih emosional. ”Kami di sini tidak tahu alamat barunya,” ujarnya, sambil menjauh. Saya terus menggali. Berakrab-akrab dengan para pemuda itu. Tapi, nihil. Mereka semua takut kepada pemuda yang pergi tadi. Saya pun mencari cara lain.

Singkat cerita, saya sukses tugas. Target tercapai. Lengkap, 5W plus 1H di tiap detail. Juga, pastinya 5W plus 1H di struktur cerita. Tiba di kantor Jawa Pos, Jalan Kembang Jepun 167, saya langsung dicegat Dahlan. Di ujung tangga yang menuju ruang redaksi. Ia tidak cuma menunggu saya, tapi juga menunggu semua wartawan Jawa Pos lainnya yang baru tiba di kantor. Dahlan ke saya cuma berucap satu kata: ”Bagaimana?” ”Beres dan lengkap, Pak,” jawab saya. Dahlan tersenyum lebar. Ia menepuknepuk pundak saya. Kemudian, ia berteriak kepada puluhan wartawan dan redaktur di ruang redaksi yang terbuka tanpa sekat itu: ”Pengumuman… Headline sedang diketik DWO.” DWO adalah kode jurnalistik saya.

Tulisan ini bukan tentang bagaimana cara saya meliput berita. Bukan. Melainkan, tentang isi koran Jawa Pos di zaman itu. Dan, siapa yang memimpin. Serta, bagaimana cara kepemimpinannya. Anda sudah baca, koran Jawa Pos sebelum tahun 1982 tidak laku. Dibagikan gratis oleh asongan di perempatan jalan-jalan di Surabaya yang panas pun, orang tidak mau mengambil. Ada pemotor yang mengambil, lalu dibuang lagi. Mengotori jalanan. Sejak 1982 koran itu dibeli PT Grafiti Pers (pemilik majalah Tempo). Dahlan Iskan yang semula wartawan Tempo dengan jabatan kepala Biro Jatim ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Jawa Pos. Dahlan memimpin dengan cara tersebut di atas. Hasilnya luar biasa. Ketika koran-koran memuat berita kriminal dari rilis polisi, Jawa Pos melakukan riset kriminologi. Riset dilakukan dalam beberapa jam. Itu baru di satu berita. Padahal, setiap hari ada puluhan berita. Kualitas puluhan berita itu setara dengan berita yang ditugaskan ke saya. Semua atas penugasan dari Dahlan.

Itu baru satu hari. Sedangkan, Dahlan memimpin Jawa Pos sampai dengan ia ditunjuk negara jadi direktur utama PLN pada 2009. Atau, 27 tahun ia memimpin Jawa Pos. Dengan cara yang konsisten seperti itu. Hasilnya, Jawa Pos menjadi perusahaan pers raksasa. Total aset puluhan triliun rupiah. Dahlan Iskan dijadikan tersangka oleh Polda Jatim karena laporan salah seorang HRD Jawa Pos sekarang. Dari tulisan Dahlan Iskan yang dimuat di Disway kemarin, saya baru tahu. Bahwa takeover Jawa Pos pada 1982 dari pemilik lama The Chung Shen oleh PT Grafiti Pers, uang pembeliannya diminta lagi oleh Dirut PT Grafiti Pers (saat itu) Eric Samola. Pada 1984. Uangnya dikembalikan Eric ke kas PT Grafiti Pers lagi. 

Uang itu dari hasil usaha Jawa Pos selama dua tahun sejak takeover. Dari koran tidak laku sebelum 1982 menjadi pembayar pengembalian dana takeover pada 1984. Sudah lunas. Sudah impas. Artinya, Grafiti sudah tidak bermodal duit lagi. Nol. Maka, jika disebut bahwa Jawa Pos adalah Dahlan Iskan, sudah selayaknya disebut begitu. Kini orang di perusahaan yang dibesarkan Dahlan itu membikin Dahlan jadi tersangka kriminal. Tulisan ini bisa dianggap membela Dahlan Iskan. Memang begitu. Dimuat di Disway lagi, yang didirikan Dahlan. Seperti membela diri di kandang sendiri. Ya, pasti begitu. Seumpama dibalik. Tulisan ini saya kirimkan ke Jawa Pos, karena isi tulisan menyangkut kilasan kisah di balik proses liputan berita Jawa Pos oleh wartawan Jawa Pos saat itu. Ya… naskahnya langsung dibuang. Sampah.

Atau, seumpama tulisan ini saya kirimkan ke media massa lain. Netral. Maka, media massa lain itu mikir. Sebab, seandainya memuatnya, mereka berarti berkonfrontasi dengan Jawa Pos. Apakah mau? Inti tulisan ini: Jawa Pos adalah Dahlan Iskan. Tidak pantas orang Jawa Pos memolisikan Dahlan yang membesarkannya. (*)

sumber tulisan : https://harian.disway.id/readepaper/1626/modal-menuju-super-league#flipbook-df_manual_book/11/  

Thursday, August 21, 2025

Buku Juklak Menjalankan Pemerintahan

 

Pemegang Deliverology

Pemegang Deliverology

--

Bocoran dari para menteri ekonomi: Presiden Prabowo bisa minta rapat jam berapa saja. Hari apa saja. Tidak peduli larut malam. Pun akhir pekan.

Tidak ada tanggal merah di kalender presiden. Saat para pegawai menikmati cuti bersama tanggal 18 Agustus Presiden memenuhi hari itu dengan rapat dan rapat.

Bagi orang seperti Dr Yanuar Nugroho, yang lebih menarik adalah ”siapa yang lantas memonitor hasil rapat itu”.

Dr Yanuar adalah salah satu ahli ilmu deliverology di Indonesia. Ia alumni Inggris --tempat lahirnya ilmu itu.

Yanuar lulusan ITB teknik industri. Masuk tahun 1990, setelah tamat SMAN 3 Solo. Lalu ia ambil S-2 di Manchester (Information Systems Engineering). S3-nya juga di Manchester: Studi Inovasi. Masih lanjut postdoktoral di bidang Knowledge Dynamics, Sustainability, dan Political Economy of Technological Innovations and Social Change.

Yanuar tidak langsung pulang. Ia diminta jadi dosen dan peneliti di University  of Manchester Business School. "Saya pulang karena dipanggil  pak Kuntoro tahun 2012," ujarnya.

Di zaman Presiden SBY Kuntoro Mangkusubroto adalah pemegang kendali monitor pembangunan.

"Siapa yang menjadi Pak Kuntoro-nya sekarang ini?" tanya saya pada Yanuar kemarin.

"Saya juga tidak tahu," jawab  Yanuar.

"Di zaman Presiden Jokowi pemegang monitornya adalah KSP --Kepala Staf Presiden. Apakah saat ini KSP masih ada?" tanya saya lagi.

"Saya tidak tahu juga," jawabnya.

Saya sudah kenal Yanuar lama sekali. Saat ia masih sangat muda. Yakni ketika Yanuar bekerja di UKP4. Dr Kuntoro adalah kepala UKP4 --unit kerja presiden bidang pengawasan dan pengendalian pembangunan.

Saya sering rapat di kantor UKP4. Di situ saya ”ditagih”:  sampai di mana pelaksanaan program-program penting di bawah tanggung jawab saya. Kadang nagihnya sangat keras.

Tentu banyak juga hambatan. Saya harus menunggu hambatan itu diselesaikan kementerian lain. Dalam Hal seperti itu kadang Pak Kuntoro membisiki saya sebelum rapat: "Nanti kamu bicara yang keras di rapat. Biar yang menghambat itu segera selesaikan tugasnya".

Rapat pun dimulai. Saat giliran saya bicara saya mulai dengan kalimat begini: "Sebelum rapat tadi saya dibisiki Pak Kuntoro agar saya bicara keras. Maka saya akan bicara keras". Mendengar itu Pak Kuntoro mengepalkan tangan seperti akan meninju saya dari jauh. Suasana rapat pun cair. Kita saling bicara keras agar program yang terhambat bisa segera selesai.

Ketika Presiden Jokowi menjabat presiden, Yanuar masih dibawa dari UKP4 ke KSP --dengan jabatan lebih tinggi. Tapi ia mengundurkan diri di pereode kedua Jokowi. Yanuar tidak tahu lagi apakah setelah itu KSP masih bebas politik.

Kini Presiden Prabowo punya begitu banyak program besar. Saya hanya bisa menebak siapa yang memegang ”dashboard” program-program besar presiden.

Tebakan pertama saya: Letkol Teddy. ”Dashboard” itu dipegang sendiri oleh  sekretaris kabinet itu.

Tebakan saya berikutnya: ”dashboard” itu dipegang oleh menteri sekretaris negara, Prasetyo Hadi. Atau dipegang langsung oleh Ketua Bappenas, Rachmat Pambudy.

Entah yang mana. Mungkin tebakan saya itu salah semua. Anda coba tebak sendiri berdasar akses yang Anda miliki.

Dalam ilmu deliverology lembaga seperti UKP4 atau KSP sering disebut ”pemegang dashboard”. Yakni dashboard pembangunan.

Anda benar. Istilah dashboard diambil dari dashboard di mobil. Di dashboard mobil terlihat semua indikator jalannya mobil: kecepatan berapa, gasnya berapa, remnya berapa, suhu berapa, mana ban yang kurang angin, apakah waktunya ganti oli dan seterusnya.

Pun di pembangunan. Khususnya program-program penting presiden. Semua harus terbaca di dashboard. Ada ilmunya di bidang itu.

Anda sudah tahu: penemu ilmu ”dashboard” pembangunan adalah ilmuwan Inggris: Michael Barber. Saking pentingnya penemuan itu sampai kerajaan Inggris memberinya gelar ”Sir”.

Begitu banyak buku yang ia tulis di bidang deliverology. Salah satunya pasti Anda sudah baca: How to Run a Government: So That Citizens Benefit and Taxpayers Don’t Go Crazy (2015). Yakni buku juklak praktis bagaimana menjalankan pemerintah secara efektif dan efisien.

Masih banyak lagi bukunya di bidang itu. Sampai Inggris, Jepang, Singapura, dan banyak negara maju lainnya mengaku memanfaatkan ilmu dari Sir Michael Barber.

Melihat banyaknya rapat yang dilakukan Presiden Prabowo saya membayangkan ”pemegang dashboard'” pemerintah sekarang pastilah tidak bisa meleng sekedipan pun --seperti seorang pembalap mobil Formula One --siap pun orangnya.

Awas! Tikungan! (Dahlan Iskan)


sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/893192/pemegang-deliverology

Friday, August 08, 2025

 

Trio Kwek

Trio Kwek

Para pemimpin negara yang tergabung dalam BRICS berfoto bersama dalam KTT BRICS di Johannesburg, Afrika Selatan, 2023 silam.--

Anda benar-benar tahu lebih dulu dari saya: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan tarif tambahan untuk India: 25 persen. Total menjadi 50 persen. Persis sama dengan yang dikenakan Trump pada Brasil.

Sikap pemimpin India, Narendra Modi, lebih keras dari pemimpin Brasil Lula da Silva. "Saya harus melindungi para petani India. Ini harga mati," ujar Modi blak-blakan. Ia tidak takut dengan tarif 50 persen itu. "Saya juga harus melindungi nelayan kami. Peternak susu kami," tambahnya.

Begitu manis di telinga rakyat jelata di bawah  India.

Modi sendiri segera ke Tiongkok. Itu kunjungan pertama dalam tujuh tahun terakhir. Kebetulan ada ”KTT Forum Tetangga”. Tempatnya,  tahun ini, di Tianjin --30 menit naik kereta cepat dari Beijing. KTT itu adalah forum negara-negara yang berbatasan dengan Tiongkok.

Tiongkok punya tetangga  sebanyak 14 negara. Tidak ada negara lain yang ”tetangga sebelah”-nya sebanyak itu. Forum Tetangga ini bukan pertemuan formal. Ini forum informal: Shanghai Corporation Organisation. Lebih sering dilaksanakan di Shanghai.

Kunjungan Modi tanggal 31 Agustus nanti menjadi lebih penting setelah sama-sama jadi korban Donald Trump. Apalagi sejak tegang akibat kontak senjata di lembah Himalaya Modi belum pernah ke Tiongkok.

Memang agak sulit menyilangkan kepentingan antar dua negara. Sama-sama haus energi. Sama-sama impor minyak dari Rusia. Tiongkok terbanyak, India runner-up.

Sebenarnya ada yang bisa dikerjasamakan: gas Rusia dialirkan ke India lewat daratan Tiongkok. Toh Tiongkok sudah punya jaringan pipa gas sampai Kunming. Bisa disambung ke daratan India. Seperti Eropa memasang pipa gas dari Rusia lewat daratan Ukraina. Juga lewat bawah laut di selatan Finlandia.

Selebihnya: Tiongkok dan India adalah pesaing di banyak  bidang. Hubungan mereka lebih sensitif. Saya heran mengapa India mau menjadi pendiri BRICS bersama Tiongkok, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan. Jangan-jangan India berpikir justru harus masuk BRICS agar tahu perut Tiongkok lebih dalam --sebagai pesaing apa saja.

Yang jelas India memang punya sikap independen yang tinggi. BRICS bisa jadi alternatif dalam menghadapi dominasi blok Barat.

Bagi Tiongkok lebih mudah memberikan solidaritasnya ke Brasil. Tiongkok memerlukan Brasil: kedelainya. Apalagi setelah sulit mendapatkan pasok kedelai dari Amerika Serikat.

Maka di saat Brasil dikenakan tarif 50 persen, Tiongkok langsung buka tangan: silakan ekspor kopi ke Tiongkok. Tanpa bea masuk.

Itu bentuk solidaritas Tiongkok  yang luar biasa bagi Brasil. Si Samba adalah produsen kopi terbesar di dunia. Arabicanya. Robustanya. Selama ini ekspor terbesarnya ke Amerika. Di saat pukulan berat, sahabat menjulurkan tangan.

Apalagi Tiongkok sekarang dalam proses beralih dari teh ke kopi. Lebih satu miliar orang akan beralih ke kopi.

Di Tiongkok, kafe sudah  bermunculan seperti jamur. Dulu saya sangat jarang melihat orang Tiongkok minum kopi. Minumnya selalu teh. Botol yang dibawa selalu berisi teh. Di mobil minuman yang ditaruh di sebelah kemudi adalah teh.

Teman saya, pemilik Kopi Kapal Api, pernah investasi pabrik kopi di Shanghai. Gagal. Terlalu dini. Ia seperti jualan sepatu di Afrika di zaman semua orang lebih merasa enak tanpa alas kaki. Bertahun-tahun Kapal Api  mencoba bertahan. Tidak berhasil. Rugi terus.

Dasar hoki, ia tiba-tiba ketiban rezeki: Pemda Shanghai akan membangun arena balap mobil Formula One. Lokasinya mencakup pabrik kopinya. Ia kena gusur. Dapat ganti rugi yang sangat besar. Seluruh kerugiannya bertahun-tahun terbayar oleh proyek Formula 1.

Belakangan ia melihat orang Tiongkok mulai gemar minum kopi. Maka ia terpikir untuk membuka pabrik kopi lagi di sana. Lokasinya di antara Shanghai dan Hangzhou. Kini, saya dengar, usahanya itu sukses. Saya sudah beberapa kali ditawari mengunjunginya tapi masih belum dapat waktu.

Cafe asal Amerika pun, Xing Ba Ke (星巴克) kini punya 7.500 gerai di seluruh Tiongkok. Target berikutnya: tahun depan menjadi 9.000 gerai.

Di sana, kalau Anda bertanya di mana Starbucks akan sulit mendapat jawaban. Tapi kalau Anda bertanya di mana Xing Ba Ke, Anda langsung ditunjukkan di mana Starbucks.

Sukses Xing Ba Ke itu ditangkap pengusaha lokal. Ia bikin pesaing Starbucks. Namanya: Luckin Coffee. Dalam sekejap mengejar Xing Ba Ke. Lalu menyalipnya. Kini jauh meninggalkannya: akhir Maret lalu sudah punya 24.000 gerai. Empat bulan kemudian menjadi 26.000 gerai.

Dalam bahasa lokal Luck'in Coffee disebut Ruixing (瑞幸咖啡). Logonya bukan kepala gajah atau kepala banteng, tapi kepala kijang.

Maka Brasil sudah menemukan pasar baru untuk produk utamanya. Akan bersaing dengan kopi produk Indonesia yang dibawa ke sana oleh Kapal Api.

Brasil, India, Tiongkok kini jadi trio kwek-kwek yang teriakan mereka bisa memekakkan telinga Trump: kwek-kwek-kwek-kwek...(Dahlan Iskan)


sumber tulisan : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/890361/trio-kwek